Pesta Seks Di Ulang Tahun Istriku



Cerita Dewasa 17+ - Seminggu yang lalu isteriku Susan, berulang tahun yang ke dua puluh enam dan untuk merayakannya, kami sepakat untuk mengadakan pesta yang spesial untuknya. Dia ingin mengundang beberapa temannya saat kuliah yang sudah lama tak bertemu dan belum pernah aku kenal sebelumnya. Aku sedikit merasa ragu apa itu ide yang bagus, tapi karena Susan belum pernah sekalipun reuni semenjak dia lulus, dia bilang sangat kangen dengan teman temannya dan ditambah dengan beberapa rayuan darinya, akhirnya dia berhasil mendapatkan persetujuanku.

Alasan kenapa aku merasa agak ragu adalah karena Susan adalah tipe gadis pesta saat kuliah dulu, sedangkan aku kebalikannya. Setidaknya itu yang kudengar dari beberapa orang dan dari mulutnya sendiri saat dalam kondisi mabuk. Dia mengaku pernah berpesta dengan sekumpulan teman-temannya yang ‘gila’ dan ‘berpasangan’ dengan hampir semua cowok yang hadir. Aku tak tahu apa yang dia maksud dengan ’berpasangan’ tapi kuputuskan untuk tak menanyakannya lebih jauh.

Susan sendiri adalah seorang wanita cantik dengan rambut bergelombang sebahu dan senyuman yang menawan. Tinggi dan berat tubuhnya rata-rata, dengan paha langsing yang berujung pada pantatnya yang montok kencang. Dadanya tak begitu besar namun penuh dan bulat. Aku merasa bangga dengan keindahan tubuhnya dan sering aku menyuruh dia untuk memamerkannya. Saat pergi ke pantai, selalu kurayu dia agar melepaskan bikini atasnya kala malam hari dan berjalan denganku di sepanjang pantai. Dan aku merasakan sebuah getaran aneh setiap kali melihat beberapa orang, terutama pria yang berpapasan dengan kami mencuri pandang ke arah dadanya. Susan selalu berpura-pura merasa malu tapi aku yakin kalau dia menikmati itu semua, sama sepertiku.
Pada malam saat hari pesta tiba, dia memakai tank-top dengan belahan rendah berpadu dengan bawahan lebar selutut. Dia merasa sangat excited untuk berjumpa dengan teman-teman lamanya. Kami pergi keluar untuk dinner sebelumnya dan saat dinner, kuperhatikan dia menenggak wine lebih banyak dari biasanya. Dia selalu jadi horny kalau mengkonsumsi alkohol dan malam ini tak terkecuali. Saat perjalanan pulang ke rumah, tangannya tak pernah lepas dari selangkanganku. Tapi aku sedang mengemudi dan aku ingin tiba dengan selamat sampai di rumah, jadi kutepis tangannya.
"Sayang, mungkin aku akan menikmati pestaku dan have some fun malam ini. Jadi jangan marah, ya?"

"Apa maksudmu?" tanyaku merasa agak gusar.

"Aku sudah berteman sangat lama dengan teman-temanku ini, wanita dan prianya juga. Dan kita sudah mengalami banyak hal bersama, jadi mungkin nanti pestanya akan sedikit gila-gilaan dan penuh permainan dengan meraka," ucapnya.

"Ok..." jawabku, tak tahu harus merespon bagaimana.

"Berjanjilah padaku kamu tak akan jealous kalau nanti ada permainan yang agak nakal dan liar berlangsung. Lagipula kamu selalu menyuruhku untuk memamerkan tubuhku kan?"

"Well, baiklah. Hanya saja, kamu tahu, jangan terlalu gila," jawabku.

"Oh sayang, I love you," jawabnya dan mendekatkan diri padaku untuk memberiku sebuah ciuman di pipi.

Di sisa perjalanan pulang Susan mengganti topik pembicaraan, tapi otakku masih tetap tersangkut pada pestanya nanti. Memang kuakui aku suka saat dia mempertontonkan keindahan tubuhnya, tapi melakukannya dihadapan orang-orang yang dia kenal, lain lagi jadinya. Namun, sebesar rasa gundah ini, tak kupungkiri betapa besarnya birahiku sendiri. Permainan gila dan nakal macam apakah yang dia sebutkan tadi?

Aku tak punya banyak waktu untuk memikirkannya. Baru saja sejenak kami masuk ke dalam rumah, sudah terdengar bel pintu depan berbunyi. Untunglah kami sudah mempersiapkan semua keperluan pesta sebelum keluar dinner tadi. Susan bergegas menuju pintu depan, roknya terlihat terayun naik turun. Kuperhatikan kemudian kalau dibalik rok pendeknya tersebut dia memakai celana dalam berwarna hitam berenda yang sangat seksi.

Pintu terbuka dan masuklah seorang perempuan cantik sedikit lebih tinggi dari Susan, berambut lurus panjang, memakai blouse berkancing dan jeans yang ketat. Sewaktu dia melihat Susan dia langsung memekik dan keduanya langsung saling berpelukan. Susan menoleh ke arahku dan berkata, "Sayang, ini Maggie! Kita teman sekamar semasa kuliah dulu!"



Kuulurkan tangan dan menyapa Maggie, kurasa kalau Susan ingin bermain sedikit nakal dan liar dengan wanita seperti ini, aku sama sekali tak merasa keberatan.

Beberapa jam berikutnya, lebih banyak orang lagi yang datang, semuanya sekitar tiga puluhan, pria dan wanita seimbang banyaknya dan semua terlihat menarik. Susan menyambut mereka semua dengan jeritan dan pelukan hangat, sejujurnya terlalu hangat bagiku. Ada satu orang meremas pantatnya saat isteriku tengah memberinya pelukan selamat datang. Dia menjerit lagi dan memukul bahu pria yang meremas pantatnya tadi. Lalu dia menoleh ke arahku dan berkata, "Sayang, ini Richard. Richard, kenalkan ini suamiku, John!"


"Bagaimana kabarmu?" sapa Richard dengan tersenyum lebar seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku. Dia sama sekali tidak terlihat jengah mengetahui kalau aku telah memergokinya meremas pantat isteriku dan sepertinya dia merasa hal itu tak ada bedanya dengan sebuah pelukan biasa saja. Aku merasa agak tercengang, tapi aku berusaha untuk menjaga perasaanku dan menyambut uluran tangannya dengan tersenyum. Aku lihat hal tersebut bukan masalah besar bagi dia dan tak seharusnya aku terlalu memikirkannya juga.

Setelah beberapa jenak, pesta sudah mulai sangat meriah. Kusibukkan diri dengan sering pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan hanya berlalu lalang dikeramaian karena semua teman lama isteriku ini tak ada yang kukenal sebelumnya. Aku mencoba untuk berbaur dengan mereka, bercanda dengan Maggie dan beberapa teman Susan yang lain, tapi tetap saja aku merasa sangat canggung di tengah keriuahan pesta ulang tahun isteriku sendiri ini.

Adakalanya aku perhatikan beberapa pria terlihat menggoda, bahkan mereka menyentuh tubuh Susan. Dan bahkan salah seorang pria yang bernama Tim memegang dan sekaligus meremas salah satu payudara isteriku. Aku sedang berada agak jauh dari mereka saat kejadian tersebut terjadi dan tak tahu apa yang menjadi penyebabnya, tapi Susan dan beberapa teman wanitanya hanya menanggapinya dengan tertawa dan bahkan kemudian Susan membalasnya dengan meremas selangkangan Tim!

Kejadian seperti itu terjadi di sana sini, membuatku merasa cemburu dan juga horny. Belum pernah kulihat pria dengan terang-terangan menggoda dan bahkan menyentuh tubuh isteriku. Dan aku sendiri merasa terkejut dengan besarnya rangsangan birahi yang kudapat saat menyaksikan itu semua. Aku merasa seharusnya aku mendatangi mereka dan mengatakan sesuatu, mungkin seharusnya aku merangkul mesra isteriku agar semua yang ada di sini tahu kalau Susan adalah isteriku, tapi aku sendiri merasa terkejut karena aku tak melakukan tindakan apapun.

Setelah beberapa jam berlalu, semua orang tampak sudah minum banyak dan mereka terlihat sudah mulai lepas kendali. Pada obrolanku dengan teman Susan, aku mengetahui kalau hampir semua wanita dan pria dalam grup ini pernah berhubungan seks satu sama lain setidaknya satu kali, termasuk Susan. Belumpernah kudengar hal ini sebelumnya dan aku merasa sedikit shock saat mengetahui bahwa Susan pernah berhubungan seks dengan pria-pria ini. Semua orang dalam grup ini begitu akrab satu sama lainnya.

Ketika aku berjalan keluar dari dapur, kudengar seseorang berteriak, "Strip rules!" Semua orang tertawa dan berteriak riuh, tapi tak seorangpun yang melakukan sesuatu. Aku merasa bingung, tapi ada seorang pria yang mengatakan padaku saat dia berjalan menuju ke dapur, kalau selama pesta saat kuliah, grup ini memang punya aturan "strip rules" tadi, dimana ada sebuah aturan yang dibuat dan jika ada seseorang yang melanggarnya harus melepaskan satu pakaian yang mereka kenakan. Kelihatannya beberapa menit tadi ada seseorang yang mengatakan sangat membosankan rasanya terlalu banyak orang yang berkata “suka” dan dari situ dengan cepat bergulirlah bahwa jangan mengucapkan kata “suka” adalah salah satu dari aturan tersebut.


Belum beberapa lama pria tadi menjelaskan hal itu padaku, terdengar teriakan riuh dari ruang keluarga. Aku mendekat dan salah satu teman Susan yang bernama Emily tengah menghentakkan kakinya ke lantai dengan raut wajah kesal. Semua orang mulai berteriak, bahkan para wanitanya juga "Lepas! Lepas!". Emily mulai melepaskan sepatu yang dia pakai, yang langsung diikuti dengan tepuk tangan dan gerutuan.

Beberapa menit berikutnya kudengar teriakan lagi dan kali ini saat aku menengok, kulihat Susan berdiri di tengah lingkaran. Dia tertawa dan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya,lalu melepaskan sepatunya juga.

Selang tiga puluh menit berikutnya, semakin banyak orang yang dapat hukuman untuk melepaskan apa yang mereka pakai. Kupikir berat untuk tak mengucapkan kata “suka”, tapi ada beberapa orang yang kelihatannya sengaja mengucapkannya, seakan memang meraka ingin melepas apa yang mereka kenakan.

Emily mengucapkan kata larangan lagi dan kini dia melepaskan bajunya hingga bra berenda warna ungu yang membungkus dadanya sekarang terpampang bebas. Beberapa orang pria berakhir dengan telanjang dada, termasuk Richard, yang memiliki bentuk tubuh kekar atletis. Susan memandangi tubuhnya beberapa lama begitu dia bertelanjang dada, yang membuatku merasa tak nyaman. Aku semakin merasa tak nyaman saat kudengar Susan mengucapkan kata larangan tersebut hampir sesaat setelah Richard melepaskan bajunya tadi. Dan saat mata semua orang tertuju padanya, tangannya menyelinap ke dalam baju dan melepaskan pengait bra yang dia pakai. Dia melepaskannya dengan tanpa membuka baju yang dia pakai, kemudian menyodorkannya pada Richard dengan tertawa riang. Richard menerimanya dan berpura-pura seakan sedang mencumbu bra tersebut, lalu melemparkannya ke samping begitu saja.

Sekarang Susan sudah tak memakai bra, dapat kulihat bagaimana terangsangnya dia. Putingnya tercetak jelas, menonjol keluar dari balik tank-topnya yang sangat ketat. Setiap kali dia melangkah, membuat payudaranya berguncang dan kala dia berjalan berkeliling, dia dapatkan perhatian dari para pria yang dia lalui.

Beberapa waktu kemudian, lebih banyak lagi wanita yang tinggal bra saja sebagai penutup tubuh atas mereka. Satu dari mereka, Melissa, bahkan kini hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. Kebanyakan para prianya bertelanjang dada dan dua atau tiga diantaranya bahkan hanya boxer saja yang tersisa. Aku masih berpakaian utuh, itu karena aku hampir sama sekali tak bicara dan itu adalah sebuah sisi baiknya. Tetapi yang ada diselangkanganku sekarang sudah sekeras batu menyaksikan para pria memandangi isteri cantikku dengan payudaranya yang terayun menggoda. Aku yakin mereka tengah membayangkan seperti apakah kedua daging kenyal tersebut dibalik tank-topnya.

Namun kemudian keadaan mulai berubah, beberapa pria itu sudah tak lagi hanya puas dengan bayangan imajinasi mereka. Saat aku tengah menatap Melissa dengan pakaian dalamnya, dari sudut mataku kutangkap sosok Tim yang bergerak ke belakang Susan. Dia sedang berdiri di depan grup yang besar, tengah asik bercerita dan dia sama sekali tak menyadari kehadiran Tim. Tim tiba-tiba muncul begitu saja tepat di belakangnya dan langsung mencengkeram tepian tank-topnya, lalu dengan cepat menariknya ke atas hingga sebatas leher. Payudaranya yang penuh dengan puting nan besar langsung melompat berguncang ke hadapan semua mata yang ada di depannya dan langsung disambut oleh teriakan riuh mereka. Susan pura-pura marah dan segera menurunkan tank-topnya, menepiskan tangan Tim lalu kemudian meneruskan kembali ceritanya seakan tak terjadi apa-apa.
 










Aku merasa cemburu tapi sekaligus terangsang. Semua yang berada dalam ruangan itu telah melihat payudara isteriku dan dia terlihat tak merisaukannya sama sekali. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, hingga aku hanya berdiri saja di tempatku, menyaksikan semua tingkah laku mereka. Tim berjalan menjauh dan tangannya diangkat untuk melakukan toas dengan sekelompok pria, lalu pergi mendekati Maggie dan mulai menggodanya.

Setelah beberapa menit berlalu, Susan bejalan mendekatiku. Terlihat jelas dia sudah mabuk, mukanya merah dan jalannya agak sempoyongan. "Oh, sayang, kamu tidak jealous, kan?" tanyanya. "Mereka kan sudah pernah melihat sebelumnya. Dulu kami sering melakukan permainan yang seperti tadi. "












"It's okay, itu membuatku horny," jawabku, sejujurnya tak yakin apakah yang aku katakan ini bohong
 atau tidak. "Go have fun."

Senyumannya semakin lebar dan dia menciumku begitu dalam. "I love you!" bisiknya, lalu melenggang pergi untuk bergabung kembali dengan teman-temannya.

Setelah ’pertunjukan payudara’ Susan yang singkat tadi, lebih banyak orang lagi yang semakin berani memperlihatkan bagian tubuh mereka yang masih berpenutup. Salah seorang pria yang hanya memakai boxer maju ke tengah lingkaran kerumunan dan melakukan gerakan layaknya seorang stripper. Sebagai balasannya, Emily menaikkan bra-nya. Karena payudaranya berukuran lebih besar dari milik Susan dan juga dia terus tertawa renyah, dia jadi agak sedikit kesulitan saat berusaha menurunkan bra-nya untuk menutupi kembali payudaranya. Tim kembali mengangkat naik baju salah seorang wanita, tapi wanita tersebut masih memakai bra dan tiba-tiba dia berbalik untuk membetot turun celana Tim. Tim hanya tertawa tergelak dan melangkah keluar dari celananya, lalu melenggang hanya dengan boxer yang masih tersisa menutupi tubuhnya.

Aku melangkah menuju ke arah dapur untuk mengambil sebotol bir lagi, tapi saat aku masuk ke dalam dapur kutemukan dua orang yang tengah asik bercumbu. Keduanya hanya memakai pakaian dalam saja, meskipun aku tak tahu apakah pakaian mereka terlepas karena permainan tadi ataukah baru saja mereka lolosi saat bercumbu. Kuambil birku dan melangkah keluar dari dalam dapur tanpa keduanya menyadari kehadiranku.

Tepat saat aku memasuki ruang keluarga, kusaksikan Susan yang tengah menertawakan Richard yang sedang melakukan gerakan menggoyang dan semua orang bisa dengan jelas melihat batang penisnya terayun di dalam boxernya. Tiba-tiba saja dia menurunkan boxernya, memperlihatkan sebatang penis yang besar dan panjang. Susan tak mampu menahan pekikan terkejutnya yang disusul derai tawanya yang keras. Alisku mengernyit, sama sekali aku tak mengharapkan melihat seorang pria telanjang dan kenyataan kalau Richard begitu besar dibandingkan aku, semakin membuatku merasa cemburu.

Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengganti musik, dari band menjadi R&B modern. Beberapa kelompok wanita mulai berdansa ditengah ruang keluarga dan beberapa pria kemudian bergabung menyusul mereka, tapi kebanyakan mereka menyingkir untuk memberikan ruang dan asik mengobrol di sudut ruangan.

Aku melangkah menuju ke ruang makan dan berdiam diri di sana, berusaha untuk mengenyahkan bayangan penis Richard dan reaksi Susan dari dalam kepalaku.

Ketika aku kembali lagi ke ruang keluarga, seseorang telah meredupkan lampunya dan ada beberapa pasangan dengan tubuh merapat erat berdansa di tengah ruangan dengan diiringi musik yang slow. Beberapa yang lainnya hanya menggoyangkan tubuhnya saja mengikuti alunan musik. Kulihat Susan dan Maggie sedang asik saling berbisik di salah satu sudut ruangan. Lalu mereka berpisah, Maggie melangkah ke tengah ruangan dan Susan berjalan menuju ke arahku.

Susan menggelayut merapat tubuhku dan berbisik di telingaku. "Sayang, kamu selalu ingin agar aku memamerkan tubuhku, kan? Itu membuatmu horny, benar bukan?"

"Yeah – yeah," jawabku asal. "Maksudku, kalau memang kamu mau. Lakukanlah."

Sama sekali tak terdengar nada semangat, tapi itu sudah cukup baginya. Dia mencium pipiku dan kemudian melangkah ke tengah ruangan menyusul Maggie.

Keduanya mulai berdansa dan menggoyangkan pinggul mereka dengan begitu erotis mengikuti irama musik. Saat meliukkan tubuhnya, perlahan Maggie mulai melepaskan kancing blousenya dan segera saja orang-orang mulai bersiul, berteriak riuh rendah menyambutnya. Dia buka blousnya, memperlihatkan sepasang payudara terbungkus bra berwarna hitam.

Yang membuatku terkejut, Susan mulai menaikkan tank-topnya juga. Sekali lagi, payudaranya tersaji dihadapan mata mereka semuanya dan saat dia menaikkan tank-topnya lepas melewati kepala, sepasang payudaranya jadi terangkat naik dengan kencang. Sorakan bergemuruh semakin keras memenuhi ruangan dan Susanpun melempar jauh tank-topnya begitu saja.

Isteriku terlihat begitu mempesona. Payudaranya terayun lembut seiring tiap gerakan pelannya dan puting merahnya telah mencuat keras seakan menantang semua mata yang sedang menatapnya. Aku hanya bisa menyaksikanya saja, mendapati semua orang sekarang dapat melihat dengan bebas keindahan payudara bulat dan perut kencangnya. Aku benar-benar terangsang begitu hebat dan juga terlihat jelas, namun tentu saja tak ada seorangpun yang menaruh perhatian pada bagian depan celanaku yang menggembung.

Lagu slow usai dan berganti dengan lagu berirama cepat, Susan dan Maggie mulai menggerakkan tubuh mereka semakin cepat. Beberapa pria mulai bergabung dengan mereka dan segera saja isteriku berada di tengah himpitan dua orang pria yang merapat tubuhnya erat. Pria yang di depannya masih berpakaian utuh, tapi pria yang di belakangnya hanya memakai boxer saja. Aku yakin kalau sedang pria itu menggesekkan penisnya ke pantat isteriku dan Susan juga membalas dengan gesekan pantatnya ke belakang. Senyuman masih terkembang di wajah Susan, tapi mimik wajahnya terlihat berubah lebih erotis. Pria yang di depannya kini melepaskan bajunya dan mulai menggesekkan dada telanjangnya ke payudara isteriku. Sedangkan tangan pria dibelakangnya mulai bergerak naik turun membelai kedua paha isteriku dari balik roknya.

Suasana mulai bertambah berat sekarang, tapi aku tetap tak mampu bergerak. Sudah sejauh ini aku ikut menikmati semuanya, kurasa akan terlihat sangat konyol jika aku akan menghentikan pesta saat ini. Sebaliknya, aku palingkan pandangan ke arah Maggie, separuh hatiku berharap saat aku menoleh kembali ke arah Susan, kedua pria itu sudah pergi. Maggie sedang berdansa dengan Tim, menggoyangkan pantatnya menggoda selangkangan Tim, yang kedua tangannya sedang sibuk bermain dengan payudaranya yang masih tetap tertutup oleh bra. Maggie lebih terlihat hanya sedang bermain-main saja, meskipun dengan seorang pria yang tengah merabai tubuhnya dan itu membuatku merasa bahwa isteriku sedang menghianatiku.

Saat pandanganku kembali ke arah Susan, pria yang dibelakangnya masih ada, tapi yang di depannya sudah pindah berdansa dengan wanita lainnya lagi. Aku merasa agak sedikit lega, namun kedua tangan pria yang dibelakangnya itu sekarang sedang berada di dada isteriku, menarik dan memilin kedua putingnya. Kedua mata isteriku terpejam, tapi aku tak tahu apakah dia tengah menikmati apa yang dilakukan pria itu padanya ataukah hanya sedang menikmati alunan musik saja. Tiba-tiba saja tangan pria itu bergerak turun ke paha isteriku lagi dan bergerak naik, masuk ke balik roknya. Isteriku menjerit tercekat dan kemudian tertawa manja, tapi sama sekali tak melakukan sesuatu untuk mencegahnya.



Detik berikutnya tangan pria itu bergerak turun dan kusaksikan dia sedang menarik turunkan celana dalam isteriku. Terus dia turunkan hingga lututnya lalu membetotnya dengan cepat hingga celana dalam itupun robek. Pria itu meneriakkan tanda kemenangannya dan melemparkan celana dalam isteriku jauh ke sudut ruang, sedangkan isteriku hanya tertawa saja.

Orang-orang yang melihat kejadian itu bertepuk tangan dan berteriak riuh. Susan menoleh ke arahku lalu tertawa dan mengangkat jari tengahnya ke arah para pria, kemudian membalikkan ujung roknya cukup tinggi untuk memperlihatkan sekilas vaginanya pada mereka. Teriakan terdengar semakin bertambah keras dan Susan kembali ke tengah ruangan untuk kembali berdansa dengan beberapa teman wanitanya.

Kurasakan nafasku sesak dan seakan ada ganjalan besar di dadaku. Isteriku hanya memakai rok dan baru saja mempertontonkan vaginanya kepada teman-tamannya dan itu terjadi setelah seorang pria menggerayangi tubuhnya untuk beberapa lama. Aku menoleh ke arah Maggie, berharap mungkin dia sama telanjangnya dan itu akan membuatku merasa lebih baik, tapi Maggie masih tetap memakai bra dan jeansnya. Dia sudah tak berdansa sekarang dan sedang mengobrol dengan beberapa pria dengan ereksi yang terlihat jalas dari balik boxer mereka.

Aku kembali menoleh ke arah Susan. Dia masih berdansa dengan teman wanitanya, tapi terlihat jelas kalau dia sedang memberikan tontonan pada para pria yang menyaksikannya. Lagu yang mengalun berirama lumayan cepat dan dia benar-benar memanfaatkan irama tersebut, bergoyang dan meliukkan tubuhnya dengan cepat dan liar. Payudaranya memantul dan bergoncang serta roknya terkibar naik turun. Beberapa kali rok tersebut terangkat cukup tinggi dan kembali mempertontonkan vaginanya dengan bebas. Rambut kemaluannya yang dicukur pendek tampak begitu hitam kontras di atas kulitnya yang putih.

Semua mata para pria tertuju padanya, bahkan para pria yang sedang mengobrol dengan wanita di depannya. Meskipun sama sexynya dengan para wanita dalam ruangan ini, tapi isteriku satu-satunya yang telanjang dada dan dia juga menyuguhkan sebuah tontonan yang mengalahkan semua yang dilakukan wanita lainnya. Mereka yang berada di hadapan isteriku mendapatkan suguhan pemandangan payudara dan selangkangannya sedangkan yang berada di belakangnya mendapatkan tontonan pantatnya yang sekal kencang.

Susan terlihat melakukan itu semua dengan sengaja, menggoyangkan pinggulnya dengan liar agar ujung roknya dapat terlempar sedikit naik turun lalu menghentakkannya cukup keras hingga ujung roknya tersibak naik seutuhnya. Tampak jelas dia nikmati semua perhatian yang dia dapatkan, bisa kulihat vaginanya berkilau oleh basahnya.

Lagunya selesai seiring dengan habisnya CD. Saat salah seorang wanita mengganti CD, Susan berjalan ke arahku. Sebelum dapat kuucapkan sepatah kata, dia memelukku erat dan mencium bibirku dengan keras. Dapat kurasakan payudaranya menempel pada bajuku dan ereksiku yang menyodok ke perutnya.

"Kamu sungguh baik," katanya. "Aku senang kamu tidak marah pada kelakuan kami yang sedikit gila-gilaan."

Ingin kukatakan kalau aku mulai merasa marah dan kelihatannya hanya dia saja satu-satunya yang having fun – tak ada seorang wanitapun yang bertelanjang dada kecuali dia! Tapi dia terdengar begitu bahagia saat mengatakan itu semua hingga membuatku hanya diam saja dan cuma mengangguk.

"Kamu perhatikan teman priaku menggerayangi dadaku tadi? Aku harap kamu melihatnya. Aku tahu kalau itu membuat kamu horny," ucapnya dengan nada begitu sexy sambil meremas penisku. Hampir saja aku langsung keluar di celana.

Dengan seringai menggoda, dia berbalik dan kembali ke pesta. Dia berdansa lagi, meliukkan tubuh indahnya, membuat roknya terangkat dan mempertontonkan vaginanya.

Aku melangkah menuju ruang makan untuk menata perasaanku. Aku begitu horny, terangsang hebat, tapi juga teramat marah. Isteriku telah mempertontonkan seluruh bagian tubuh terlarangnya pada sekelompok orang yang tak aku kenal dan aku bahkan tak memiliki keberanian sedikitpun untuk menyikapinya. Entah bagaimana aku merasa sangat malu karena menjadi terangsang juga. Kuhabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam di dalam ruang makan hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali ke ruang keluarga, kembali ke pesta, berharap suasana akan jadi sedikit mereda.

Hal pertama yang aku saksikan adalah Maggie yang kembali berdansa. Kali ini bra yang dia pakai sudah terangkat naik hingga lehernya, mungkin oleh salah satu teman prianya dan dia tak ambil pusing untuk membenarkan letaknya kembali ataupun melepaskannya. Payudaranya terlihat mempesona, sedikit lebih besar dari Susan, namun putingnya lebih kecil lagi. Dia tengah berdansa dengan seorang pria yang hanya memakai boxer saja dan kelihatannya pria itu sedang berusaha melepaskan turun perlahan jeans yang dipakai Maggie.

Dengan perasaan ngeri, aku palingkan wajah mencari dimana Susan berada. Dia sedang berdiri dihadapan beberapa pria yang duduk di kursi. Richard duduk di kursi kesukaanku dan bahkan dari jauh seberang sini aku bisa melihat bagian depan boxernya begitu menonjol.

Susan sedang bicara, tapi hampir semua pria itu memandangi payudara telanjangnya, yang selalu terguncang setiap dia bergerak. Richard terlihat balas berbicara, lalu tertawa dan Susanpun mulai tertawa juga. Hampir semua pria di depannya mulai bicara dengan semangat. Musik yang terdengar terlalu keras untuk bisa mendengarkan apa yang tengah mereka perbincangkan, tapi kelihatannya mereka sedang menggoda Susan. Susan menggelengkan kepala, membuat rambutnya tersibak. Dia tampak begitu sexy, berdiri di sana dengan rambut menututpi wajahnya, payudaranya berdiri tinggi dan kencang di dadanya.

Setelah beberapa kali bicara, Richard yang tadinya berdiri tiba-tiba duduk di kursinya dan Susan duduk di pangkuan Richard. Dia duduk diujung lutut Richard, tapi kemudian mengatur posisinya dan beringsut naik ke pangkuan Richard. Dia tertawa dan kembali bicara dengan pria lainnya, hingga tiba-tiba dia berhenti, terlihat menahan nafas. Para pria lainnya bersorak riuh rendah hingga bisa kudengar dari tempatku berada, tapi bukannya tertawa, isteriku mulai tersenyum saja.

Meskipun rok yang dia pakai menghalangi pandanganku, aku sangat yakin kalau Richard sedang menyetubuhi isteriku. Dia menyetubuhinya dengan batang penis besarnya tepat didepan mataku dan juga di hadapan para pria yang bersorak riuh itu. Saat aku masih terkesima menatap mereka, Richard mulai merabai payudara Susan, meremasnya dan memilin kedua putingnya bergantian. Mata isteriku terpejam dan kulihat dia mendesah dan tiba-tiba saja terlihat berusaha untuk bangkit dari pangkuan Richard. Dengan main-main dia tepiskan tangan Richard dari payudaranya dan perlahan dia berdiri.

Para pria di sekelilingnya mulai menggerutu protes, tapi Richard hanya mengangkat kepalan tangannya menandakan keberhasilannya. Susan tertawa tergelak melihat polah tingkah teman-teman prianya itu dan menoleh ke arahku. Dia melihatku sedang memperhatikan dan mulai bergerak menuju ke arahku, roknya yang terkibas seiring ayunan langkahnya, memberikan sebuah tontonan keindahan pantatnya pada semua orang yang dia lalui.

"Apa yang terjadi di sana tadi?" tanyaku cepat, berusaha terdengar marah tapi kelihatannya hanya nada bingung yang keluar.

"Apa? Oh, yang disana tadi? Oh, sayang, bukan apa-apa. Richard dan beberapa temanku yang lain bertaruh denganku jika aku duduk dipangkuan Richard, apa dia bisa memasukkan penisnya ke dalam vaginaku tanpa menggunakan tangannya, apa tidak. Jadi aku lalu duduk dipangkuannya dan dia mencobanya."

"Apa – apa dia berhasil?" sahutku penasaran.

"Well, ya, sedikit. Aku tidak pakai celana dalam, jadi dia berusaha mendorongkan ujung penisnya melewati boxernya dan dia arahkan tepat ke belahan vaginaku. Dia mulai meyodok naik turun, tapi itu hanya beberapa kali saja. Jangan khawatir sayang, itu hanyalah sebuah taruhan saja. Setelah jelas kalau dia menang, aku langsung berdiri."

Aku hanya menatapnya dan dia meneruskan, "Itu bukan masalah besar, sayang. Janganlah khawatir!" dia berikan senyum lebarnya padaku lalu melangkah menjauh. Aku terpaku dalam kebisuan. Isteriku baru saja menceritakan padaku, tepat setelah aku menyaksikannya, bahwa dia baru saja disetubuhi oleh seorang pria lain dan dia berharap agar aku tak perlu merisaukannya. Bahkan yang lebih buruk lagi, cara dia mengucapkannya, aku hampir percaya kalau itu benar-benar bukanlah masalah besar.

Tak berapa lama kemudian Susan kembali berdansa dengan Maggie. Sekarang, hampir seluruh wanita hanya memakai pakaian dalamnya saja dan beberapa dari mereka juga bertelanjang dada seperti isteriku. Maggie sekarang hanya pakai celana dalam saja. Semua pria sudah hanya memakai boxer saja dan kesemuanya memperlihatkan ereksi mereka yang sama sekali tak bisa ditutup-tutupi. Kurasa kalian tak bisa menyalahkan mereka, karena mereka dikelililingi para wanita yang hanya berpakaian dalam dan bahkan bertelanjang dada saja. Tapi hampir semua perhatian tertuju pada isteriku yang setengah telanjang, menari dengan begitu gembira, menggoyangkan payudaranya dan terkadang juga sedikit mempertontonkan pantat dan vaginanya.

Aku mulai perhatikan kalau beberapa orang sudah mendapatkan pasangannya masing-masing. Jumlah orang di ruang utama sudah jauh berkurang dari sebelumnya, yang berarti mungkin saja mereka tengah bersetubuh di ruangan yang lainnya. Bahkan di ruang keluarga, ada beberapa yang tampak sedang asik masyuk bercumbu di sudut ruangan. Pesta ini tengah berada di ambang perubahan pada sebuah pesta seks.

Isteriku juga tak membantu semua orang agar lebih 'reda'. Dia dan Maggie menari dengan begitu merangsang, menggoyangkan pinggul mereka hingga menyedot semua perhatian para pria. Payudara telanjang mereka, terpampang bebas dihadapan mata semua orang, terayun, terguncang oleh setiap liukan tubuh keduanya.

Dua orang pria, Tim dan Mark, kembali bergabung dengan keduanya. Kali ini sudah tak ada lagi batasan sama sekali. Kedua pria itu bergerak merapat erat pada mereka yang terus asik mengobrol dan tertawa. Kusaksikan tangan Tim bergerak ke balik rok Susan. Segera saja Susan menoleh dengan raut wajah terkejut, tapi kemudian Tim membisikkan sesuatu di telinganya dan isteriku tersenyum, memutar matanya dan kembali menghadap ke arah Maggie. Tim mulai menggerayangi payudara Susan yang kini mulai menggesekkan pantatnya pada selangkangan Tim.

Susan membungkuk ke depan dan berbisik di telinga Maggie. Maggie terlihat tercekat dan memandang ke bawah pada rok Susan dan kemudian disusul suara tawa panjangnya. Aku tak tahu apa yang terjadi di sana, tapi kemudian tangan Maggie menjulur ke bawah untuk meraih ujung rok Susan dan mengangkatnya naik. Batang penis Tim tertancap dalam vagina Susan – dia menyetubuhinya saat keduanya berdansa rapat. Susan dan Maggie mulai tertawa lagi dan Maggie kemudian menyandarkan tubuhnya pada Mark di belakangnya dan membisikkan sesuatu di telinga Mark seraya masih saling bergoyang rapat seirama alunan lagu. Mark menyeringai dan mengangguk, kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk menyingkap celana dalam Maggie ke samping, memperlihatkan vaginanya yang berambut lebat. Dia selipkan ujung penisnya ke dalam Maggie, yang segera saja mendesah dan membalas sodokan Mark dengan mendorongkan pantatnya ke belakang. Mereka mulai bersetubuh tepat di hadapan Susan dan Tim.

Kelihatannya mereka sedang berlomba untuk melihat siapa diantara kedua pria itu yang mampu bertahan lebih lama. Susan dan Maggie terlihat begitu bersemangat menyetubuhi masing-masing pria pasangannya dan dari tempatku berdiri keduanya saling melemparkan ejekan diantara dentuman suara musik yang keras. Aku hanya menyaksikan, tanpa perasaan, saat isteriku tengah disetubuhi dari arah belakang.

Beberapa menit berselang, tubuh Tim mengejang dan mulai mengocok dengan cepat dan keras.Tiba tiba saja dia mengumpat dan mulai meremas payudara Susan dengan kasar dan beberapa saat berikutnya dia menarik tubuhnya menjauh dari Susan. Batang penisnya berkilat basah dan sekarang sudah lemas usai keluar di dalam isteriku. Susan mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan kemenangan yang dia raih, lalu dia dan Mark saling melakukan toas. Maggie mengerang, tapi meskipun perlombaan mereka telah selesai dia tetap membiarkan Mark terus menyetubuhinya. Susan berjalan menjauh dan agar pikiranku tak tertuju padanya, aku terus saja menyaksikan Maggie yang sedang disetubuhi oleh Mark. Tak lama kemudian, tubuh Mark juga mulai mengejang dan tampaknya dia sudah menyemburkan cairan kenikmatannya di dalam vagina Maggie. Mark mencabut batang penisnya keluar hingga membuat spermanya mulai meleleh keluar ke celana dalam Maggie. Maggie memberikan toas padanya dan kemudian Mark memasukkan batang penis basahnya ke dalam boxernya kembali dan berjalan menjauh.

Aku tak mampu mempercayainya. Aku tak dibesarkan dalam didikan dengan cara pandang seks adalah sesuatu yang biasa saja, tapi baru saja isteriku dengan teman-temannya saling bersetubuh sebagai bagian dari sebuah perlombaan. Kenapa aku tak mengetahui kalau isteriku bisa bertingkah laku seperti itu dalam berpesta?

Aku merasa seperti mau muntah, segera saja aku bergegas menuju kamar mandi. Kucoba untuk mengeluarkan apa yang bergolak dalam dada dan perutku, tapi tetap saja tak ada apapun yang keluar dan akhirnya setelah merasa lebih baikan, aku keluar dari kamar mandi dan kembali ke pesta.

Orang-orang tampak berkerumun mengelilingi Susan, sambil berteriak "Pukul pantatnya! Pukul pantatnya!" Dia berusaha untuk keluar dari lingkaran itu, tapi mereka merapat dan tak membiarkannya lolos. Richard menangkapnya, mengangkat tubuhnya dan menggendongnya di bahu. Susan meronta dan berusaha untuk memukul Richard, tapi jelas terlihat kalau itu hanya main-main saja. Richard membawa isteriku ke sebuah kursi dengan diikuti oleh semua orang.

Richard duduk dan meletakkan tubuh Susan di pangkuannya. Kembali Susan meronta, tapi masih tetap terlihat jelas kalau dia tak bersungguh-sungguh. Richard menyikap roknya hingga ke pinggang, memperlihatkan bongkahan pantatnya pada semua orang yang mengerumuni. Dia mulai memukul pantat isteriku diiringi dengan hitungan dari orang-orang yang mengelilingi. Susan menjerit dan tubuhnya tersentak dalam setiap pukulan yang dia terima, menjadikan payudaranya yang tergantung jadi terguncang. Salah seorang pria maju dan memencet putingnya, membuat Susan semakin menjerit-jerit dan meronta tanpa ampun.

Saat hitungan dari orang-orang akan masuk yang ke dua puluh enam, Richard memberikan pukulan terakhirnya pada pantat Susan dan kemudian membiarkannya terlepas pergi. Susan berdiri dengan wajah merona sangat merah karena jengah tapi tetap saja tertawa riang. Orang-orang berteriak riuh dan salah satu dari mereka ada yang berteriak "happy birthday." Susan membungkukkan badannya, sedikit mengangkat roknya dan kemudian tangannya meraih ke belakang untuk melepaskan pengait roknya. Dia memeganginya di depan selangkangannya dan menggoyangkannya maju mundur, menggoda mereka dan kemudian melemparkan roknya pada Richard.

Semua orang berteriak keras menyambut perbuatan isteriku yang sekarang sudah telanjang bulat. Richard mengangkat rok tersebut dan memutarnya di atas kepala, membuat Susan tak mampu mencegah gelak tawanya dan bertepuk tangan bahagia. Dia terlihat begitu bersemangat sekaligus sexy, dengan tubuh ramping dan kencang. Dia melakukan gerakan memutar tubuhnya, memperlihatkan pada semua yang ada dalam ruangan, vaginanya yang dihiasi rambut kemaluan terpotong pendek rapi dan juga keindahan payudaranya yang membulat kencang dengan kedua puting besar dan mencuat keras ke depan. Kemudian dia melangkah keluar dari kerumunan dan berjalan menuju ke ruang makan untuk mengambil sebotol bir lagi.

Aku tahu itu sudah tak ada bedanya sekarang ini, karena semua orang toh sudah melihat tubuh telanjangnya dari tadi meskipun hanya sebentar-sebentar dan juga telah dua orang pria yang menyetubuhinya, tapi ternyata melihatnya telanjang bulat dihadapan semua orang sekarang ini mampu membuatku merasa terbakar api cemburu yang sangat besar. Aku merasa geram pada diriku sendiri yang tak mampu melakukan apapun tentang semuanya ini.

Beberapa saat berikutnya dia kembali ke ruang keluarga dan berdansa serta mengobrol dengan teman-temannya lagi. Sekarang aku sudah kehilangan ereksiku dan kepalaku terasa berputar karena banyaknya alkohol yang aku minum dari tadi. Badanku terasa tak karuan dan aku hanya ingin merebahkan tubuhku di kasurku yang nyaman di dalam kamar.

Aku masih berusaha tetap di pesta untuk beberapa lamanya lagi, siapa tahu akan ada sesuatu yang terjadi lagi, tapi kelihatannya suasana sudah mencapai klimaksnya tadi dan kini mulai mereda. Belum ada seorangpun yang pulang, tapi mereka terlihat sudah mulai merasa lelah. Aku berjalan menghampiri Susan dan mengatakan padanya kalau kepalaku terasa pusing dan akan naik ke kamar untuk tidur. Dia terlihat sedikit cemas tapi aku katakan padanya agar tak perlu merisaukanku dan menyuruhnya untuk terus bersenang senang dengan teman-temannya.

Aku rebah di atas kasur untuk beberapa jam berikutnya, mendengarkan semua yang tengah berlangsung di lantai bawah. Dari dalam kamarku, tak banyak yang bisa aku dengarkan, kecuali untuk beberapa jeritan dan suara tawa keras. Kupikir dengan pergi ke kamar akan mengurangi rasa gelisah serta cemburuku, tapi ternyata sekarang semakin bertambah parah saja, karena aku hanya bisa membayangkan saja tentang semua yang mungkin akan dilakukan isteriku dengan teman-temannya.

Setelah apa yang kurasakan tanpa akhir, mulai kudengar suara mobil yang menjauhi rumahku dan sekitar setengah jam kemudian Susan masuk ke dalam kamar. Dia masih tetap bertelanjang bulat dan langsung melangkah menuju ke kamar mandi di dalam kamar tidur kami untuk membersihkan tubuhnya. Dan beberapa lama kemudian dia masuk ke dalam kamar, lalu merebahkan tubuhnya di sampingku. Dia tahu kalau aku masih terjaga, jadi akupun tak perlu terus berpura-pura.

"Thank you so much, sudah mengijinkanku bersenang-senang dengan teman-temanku malam ini, sayang. Aku tahu kalau kamu tak begitu suka ramainya pesta dan aku sangat bahagia kamu tak marah padaku," ucapnya.

"Ada yang terjadi lagi setelah aku pergi?" tanyaku, merasa tak yakin ingin mendengar apa yang terjadi.

"Tak banyak. Kami hanya bercanda dan bersenang-senang." Dia terdiam untuk beberapa lama. Lalu dia meraih batang penisku dan mulai membelainya dari balik boxerku.

"Kamu masih ingat taruhan yang aku lakukan dengan beberapa teman priaku tadi? Well, beberapa orang membicarakannya setelah kamu pergi dan Richard mengeluh bahwa dia sudah menang tapi sama sekali tak mendapatkan hadiah. Dia ingin memasukkan penisnya ke vaginaku lagi. Kubilang tidak pada awalnya, tapi dia terus berusaha merayuku, makanya setelah beberapa saat, akhirnya aku menyerah dan membiarkan dia melakukannya."

"Kamu – kamu biarkan dia melakukannya?" tanyaku.

"Well, dia sudah melakukannya sebelumnya dan juga memang dia kan yang menang, jadi kupikir aku akan memberikan hadiahnya dengan membiarkannya menyetubuhiku sekali lagi. Jadi aku duduk di pangkuannya dan dia masukkan penis besarnya ke dalam vaginaku lagi. Dia hanya mengocoknya beberapa saat dan langsung ejakulasi di dalamku dan lalu aku langsung berdiri. Itu cuma sebentar saja kok sayang dan juga kami hanya main-main saja. Seharusnya kamu melihatnya sayang, itu akan sangat membuatmu sangat horny."

"Apa itu saja yang terjadi?" kejarku. Dia keluarkan penisku dari dalam boxer dan mulai mengocoknya pelan.

"Well, beberapa teman priaku menonton kami dan mereka bilang tak adil kalau hanya Richard saja yang boleh menikmati aku. Lalu akhirnya beberapa dari mereka melakukannya juga denganku."

"Berapa – berapa banyak pria lagi?"

"Well, tidak banyak juga. Hanya beberapa dari mereka yang terlalu horny dan itu semua juga cuma main-main saja."

Dia mulai mengocok dengan cepat dan keras. Aku merasa marah terhadapnya, tapi juga begitu horny hingga aku tak ingin dia berhenti. Maka aku hanya diam saja.

"Brian terus menerus merajuk, mengatakan kalau sudah lama dia tak mendapat seks dan setelah dia melihatku dengan Richard, dia terus membuntutiku dan terus menerus mencubiti pantatku. Aku pergi ke dapur dan dia berhasil memojokkan aku ke dinding dan dia tetap terus memohon padaku. Aku jadi merasa terganggu karena ulahnya, jadi kubilang saja pada dia untuk melakukannya. Dia langsung mendorongku bersandar pada meja dapur dan langsung menyodokkan barangnya ke dalam vaginaku dari belakang. Cuma berlangsung beberapa menit saja dan aku berhasil memaksanya untuk mencabut penisnya sebelum dia keluar di dalamku."




"Lalu berikutnya, saat aku sedang bersandar pada meja bar di ruang keluarga, mengobrol dengan Marry, tiba-tiba Craig muncul di belakangku. Aku tak begitu mempedulikannya, dan dia sepertinya bisa menyelipkan penisnya begitu saja ke dalam vaginaku."

Matanya mulai terlihat berbinar dengan pandangan seakan melayang jauh tinggi.

"Oh, sayang, penisnya begitu besar. Bahkan jauh lebih besar dari miliknya Richard. Dia juga membelai dan meremasi dadaku dan rasanya begitu nikmat. Aku tak mau dia berhenti, aku tak ingin dia cuma bertahan sebentar saja, jadi kemudian dia menyetubuhiku dengan keras untuk beberapa saat lebih lama. Kemudian dia keluar di dalamku, aku membiarkannya. Itulah akhirnya dan kemudian kami berdua kembali bergabung dengan yang lainnya kembali. "

"Oh, dan berikutnya Mark dan aku bercanda tentang dia yang sedang mencari sebuah 'rumah' yang bagus untuk penisnya dan dia yang sedang 'belanja' untuk memilih seorang wanita. Dia sudah menyetubuhi Maggie dan Melissa sebelumnya dan dia bilang kalau seharusnya aku juga menyediakan 'rumah yang terbuka' untuknya. Jadi akhirnya aku biarkan saja dia masukkan penisnya ke dalam vaginaku, hanya bercanda saja. Bahkan dia sama sekali tidak memompanya, itu cuma main-main saja, jadi itu tak masuk hitungan, benar kan sayang?"

"Kurasa tidak," jawabku lirih.

"Seharusnya kamu tidak pergi tidur begitu cepat, sayang," dia merajuk. "Aku tadi memberimu pertunjukan yang spesial. Semua orang melihatku telanjang dan mereka memegang dada dan mencubit pantatku juga. Kamu suka melihat itu, kan sayang? Bukankah kamu suka melihat mereka meraba dan menyetubuhi aku dan juga menumpahkan spermanya di dalam vaginaku?"





Itu hal terakhir yang mampu aku terima. Aku ejakulasi, lebih hebat dari semua yang pernah aku alami sebelumnya. Tapi segera saja aku merasa menyesalinya, karena itu menjadikanku seolah menikmati isteriku disetubuhi dengan bebasnya oleh sekumpulan pria, yang sebenarnya itu semua membuatku marah. Tapi bahkan setelah berejakulasi, aku hanya terdiam kembali.

"Aku rasa, kamu memang menyukainya," gumamnya. Dia membalikkan tubuh dan menarik selimutnya menutupi tubuhnya. "Selamat malam, sayang."

Aku terbaring di atas ranjang untuk berapa lamanya, aku tak tahu, menatap langit-langit dan membayangkan gerangan apakah yang telah kusaksikan semuanya ini....

Bercinta Dengan Gadis Seksi dan Mulus PKL


Kejadian ini adalah benar-benar kisah nyata yang sampai sekarang tidak pernah saya lupakan. Peristiwa ini terjadi sekitar bulan September 2010 dan merupakan pengalaman seks pertama saya yang paling berkesan.

Sebelumnya, saya perkenalkan diri, waktu itu umur saya 27 tahun, masih single (bukannya tidak laku tetapi memang saya masih ingin bebas). Kata orang, wajah saya cukup ganteng dengan tubuh yang macho; tinggi, tegap, padat dan atletis. Bekerja di suatu instansi pemerintah di kota Surabaya. Bekerja pada Bagian Sekretariat yang mengurusi surat-surat masuk dan mencatat segala keperluan dinas atasan (sebagai sektretaris), juga mengetik surat-surat, karena memang saya cukup terampil dalam penggunaan komputer yang terkadang memberi pelajaran mengenai pengoperasian komputer di luar kantor.

Seperti biasanya, suatu instansi pemerintah selalu ada siswa-siswi yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang memang merupakan bagian dari kurikulum yang harus dijalani oleh setiap murid. Pagi itu sekitar pukul 09:00, saya sedang mengetik suatu nota untuk dikirim ke suatu instansi lain, saya didatangi oleh 3 siswi lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Selamat pagi, Pak!" sapa mereka dengan kompak dan ramah.
"Pagi.., ada yang bisa saya bantu?" jawab saya dengan ramahnya.
"Begini Pak.., kami ingin menyakan apakah di sini masih menerima anak sekolah untuk PKL?"
"Oooh.. kalian dari sekolah mana?" tanya saya.
"Saya dari SMK X pak.. dan ini surat permohonan kami dari sekolah." kata mereka sambil menyerahkan surat.
Lalu saya baca, di sana tertulis nama-nama mereka, setelah selesai saya menatap mereka satu persatu.
"Coba, saya ingin tahu nama-nama kalian dan ketrampilan apa yang kalian miliki?" tanya saya sok pintar.
"Nama saya Devi Pak, yang ini Desy dan yang itu Susy Pak.." mereka juga menjelaskan bahwa mereka bisa menggunakan komputer walaupun belum terampil, karena di sekolahnya diberikan ketrampilan komputer.
Lalu saya pandangi satu persatu, si Devi memiliki postur tubuh yang agak kurus dengan bentuk wajah bulat dan memiliki bentuk payudara yang hampir rata dengan dadanya. Si Desy agak gemuk dan pendek tetapi memiliki payudara yang besar. Sedangkan yang satu ini memiliki postur tubuh yang agak tinggi dari teman-temannya, sangat cantik dan seksi, seperti bintang mega sinetron dengan bulu-bulu halus di tangannya. Warna kulitnya kuning langsat dengan wajah yang imut-imut dan bibir yang merah serta payudara yang montok, ukuran dadanya 34B. Wah.. pikiran saya jadi kotor nih (maklum namanya juga lelaki, apalagi kolektor bokep seperti saya, yang namanya pikiran ngeres sih sudah biasa). Umumnya mereka semua memiliki wajah yang cantik, kulit putih dan bersih.



"Begini ya adik-adik, kebetulan di sini memang belum ada yang PKL, tetapi akan saya tanyakan pada atasan saya dulu.." kata saya, "Nanti, seminggu lagi, tolong adik-adik ke sini untuk menunggu jawaban." lanjut saya sambil tidak henti-hentinya memandangi wajah mereka satu persatu.
Setelah berbasa-basi sedikit, akhirnya mereka pulang. Setelah itu saya menghadap atasan yang kebetulan sedang baca koran, maklum pegawai negeri kan terkenal dengan 4 D (datang, duduk, diam dan duit). Hanya saja atasan saya itu berbeda dengan para PNS lainnya. Beliau sangat disiplin dan rajin. Beda sekali dengan PNS-PNS kebanyakan. Setelah bicara ala kadarnya, atasan saya menyetujui dan sayalah yang disuruh memberi tugas apa yang harus mereka kerjakan nanti.
"Tolong, nanti kamu yang mengawasi dan memberi arahan pada mereka." kata atasan saya.
"Tapi jangan diarahin yang ngga-ngga lho.."
Saya agak bingung dibilang seperti itu, "Maksud Bapak??"
"Iya, tadi saya sempat lihat, mereka cantik-cantik dan saya perhatikan mata kamu nggak lepas-lepas tuh."
"Ah, Bapak bisa aja, saya ngga ada maksud apa-apa, kecuali dia mau diapa-apain." kata saya sambil bercanda dan tertawa.
"Dasar kamu.." jawab atasan saya sambil ketawa.
Walaupun dia atasan saya tetapi dalam keseharian, di antara kami tidak ada batas. Selain kami sama-sama tikus gym dan tenis maniak, kami sama-sama suka berburu daun muda untuk pelepas dahaga. Tak terhitung sudah berapa kali kami terlibat orgy seks bersama para daun muda, perawan atau tidak, yang kami kencani hampir di setiap akhir pekan di kawasan-kawasan wisata berudara sejuk.



***Tikus gym = orang-orang yang sering menghabiskan waktunya di gym demi tubuh yang indah, bak tubuh model kebugaran Indonesia, Ricky Daud.
Seminggu kemudian, mereka bertiga kembali ke kantor. Setelah itu saya jelaskan bahwa mereka bisa PKL di sini dan langsung mulai bekerja. Setelah itu Devi dan Desy saya tugaskan di bidang lain, sedangkan Susy, saya suruh membantu pekerjaan di ruangan saya. Kebetulan ruangan saya tersendiri. Memang sudah saya rancang sedemikian rupa agar selalu dapat menikmati keindahan tubuh Susy yang saat itu kelihatan cantik dan seksi dengan rok yang agak ketat di atas lutut. Lalu saya mengantar Devi dan Desy ke ruangan lain untuk membantu karyawan yang lain, sedangkan Susy saya suruh menunggu di ruangan saya. Setelah itu saya kembali ke ruangan.
 Cerita Sex ABG - Bercinta dengan Siswi SMK PKL
"Apa yang harus saya kerjakan, Pak?" tanya Susy ketika saya sudah kembali.
"Kamu duduk di depan komputer.. dan ini tolong bantu saya mengetik beberapa nota." saya memberi beberapa lembar kertas kerja, "Dan tolong jangan panggil saya Bapak, saya belum bapak-bapak lho, panggil saja Mas Bimo." kata saya sambil bercanda.
"Baik Mas Bimo, tetapi tolong ajarkan saya mengetik, karena saya belum mahir menggunakan komputer."
Lalu saya mulai memberi arahan sedikit tentang cara mengetik sambil tidak henti-hentinya memandangi wajah Susy tanpa sepengetahuannya. Saya berdiri di sampingnya sambil menikmati. Sebentar-sebentar mencuri pandang ke arah payudaranya yang kelihatan dari atas karena kerahnya agak terbuka sedikit. Nampak sekali kelihatan belahan payudaranya yang putih mulus tertutup bra warna coklat muda. Apalagi ditambah dengan paha yang sangat seksi, mulus dan kencang, berwarna kuning langsat yang roknya naik ke atas ketika duduk. Tanpa disadari, kemaluan saya berdiri tegak. Pikiran kotor saya keluar, bagaimana caranya untuk bisa menikmati keindahan tubuh anak SMK ini.



Di hari pertama ini, saya hanya bisa bertanya-tanya tentang sekolah dan keluarganya dan terkadang bercanda sambil menikmati keindahan tubuhnya. Ternyata Susy adalah anak yang enak diajak bicara dan cepat menyesuaikan dengan lingkungan. Terkadang saya suka mengarahkan ke cerita yang porno-porno dan dia cuma tersipu malu. Selama itu, saya juga berpikir bagaimana caranya untuk merasakan kenikmatan tubuh Susy. Saya merencanakan untuk membuat strategi, karena besok atasan saya akan dinas ke luar kota, untuk kerjaan dan berburu daun muda seperti biasa. Berarti ini kesempatan emas untuk bisa bebas berduaan dengannya selama 2 minggu itu.



Pada hari ketiga, pagi-pagi Susy sudah datang dan kebetulan atasan saya sedang dinas ke Bandung selama 2 minggu. Seperti biasa, dia selalu menanyakan apa yang bisa dia kerjakan. Inilah kesempatan saya untuk melaksanakan rencana yang sudah disiapkan dengan pikiran kotor saya. Tekad saya kian bulat ketika melihatnya duduk di kursi, tanpa disadari atau disengaja, duduknya agak mengangkang, sehingga dapat terlihat jelas celana dalamnya yang berwarna putih di antara pahanya yang putih-mulus.
"Gini aja Sus, kebetulan hari ini kayaknya kita lagi ngga ada kerjaan.. gimana kalau kita lihat berita-berita di internet?" kata saya mulai memancing.
"Kebetulan tuh Mas Bimo, tolong dong sekalian ajarin tentang internet!" pintanya.
Nah kebetulan nih, "Beres.. yuk kita masuk ke ruangan atasan saya, karena internetnya ada di ruangan bos saya."
"Ngga enak mas, nanti ketahuan Bapak."
"Kan Bapak lagi dinas ke luar kota, lagian ngga ada yang berani masuk kok selain saya." jawabku sambil sebentar-sebentar melihat celana dalamnya yang terselip di antara pahanya.
Benda pusaka saya sudah tegang sekali, dan sepertinya Susy sempat melihat ke arah celana saya yang sudah berubah bentuk, tetapi cepat-cepat dialihkannya.
Lalu kami berdua masuk ke ruangan atasan saya sambil menutup, lalu menguncinya.
"Mas.. kenapa dikunci?" tanya Susy merasa tidak enak.
"Sengaja.. biar orang-orang menyangka kita tidak ada di dalam. Lagian kan nanti ganggu kita aja."
"Ih, Mas pikirannya kotor, awas ya kalau macam-macam sama Susy!" katanya mengancam tetapi dengan nada bercanda.



Lalu kami berdua tertawa, sepertinya dia tidak curiga kalau saya memang ingin macam-macam dengannya. Susy saya suruh duduk di kursi dan saya duduk di sebelahnya, di atas sandaran kursi yang diduduki Susy. Seperti hari-hari sebelumnya, saya dapat melihat dengan bebas paha dan payudara Susy tanpa sepengetahuannya. Agar Susy tidak curiga, saya mengajari cara membuka internet dan memulai langkah awal dengan melihat-lihat berita.
"Sus.. kamu tahu ngga kalau di internet kita bisa melihat cerita dan gambar-gambar porno?" tanya saya mulai memasang strategi.
"Tahu sih dari teman-teman, tetapi saya ngga pernah lihat karena memang tidak tahu cara menggunakan internet.. tetapi kalau lihat gambar gituan dari majalah sih pernah." katanya malu-malu.
"Nah ya.. anak kecil sudah ngeliat yang macam-macam." kata saya bercanda sambil memegang pundaknya dan dia diam saja sambil tertawa malu-malu.



"Kalau saya lihatin cerita-cerita dan gambar porno di internet mau ngga?" pinta saya.
"Mau sih, tetapi jangan dibilangin ke teman-teman Susy ya mas..!! Kan malu."
"Percaya deh, saya ngga bakalan nyeritain ke teman-teman kamu."
Lalu saya mulai membuka cerita porno di xxxxx.com. Lalu Susy mulai membacanya dengan penuh perhatian. Lama-kelamaan, saya lihat wajahnya agak menegang, sepertinya dia mulai terangsang membacanya. Terlihat wajah Susy agak berubah dan sedikit gemetar saat membacanya. Dengan perlahan-lahan saya mulai meraba pundaknya. Sengaja saya lakukan perlahan-lahan untuk memberikan rangsangan dan agar jangan terkesan saya ingin mengambil kesempatan. Nampaknya mulai berhasil karena dia diam saja. Sedangkan kemaluan saya yang sudah tegang menjadi semakin tegang. Setelah Susy membaca beberapa cerita lalu saya bukakan gambar-gambar porno.

 Secara perlahan-lahan tangan saya mulai memegang dan mengelus tangannya, dia diam saja dan tidak ada tanda-tanda penolakan. Yang anehnya, dia diam saja ketika saya merapatkan duduknya dan saya pegang tangannya yang berbulu halus dan saya taruh di atas paha saya. Matanya tetap tertuju pada adegan film dan suaranya memang sengaja saya buat agak keras terdengar agar lebih nafsu menontonnya. Terdengar suara rintihan dan erangan dari di wanita, ketika kemaluannya disodok-sodok oleh si negro dengan kemaluaannya yang sangat besar dan panjang, sedangkan mulutnya dengan lahap mengulum batang kemaluan si bule.
Kini Susy semakin tidak tenang duduknya dan terdengar nafasnya agak berat bertanda nafsunya sedang naik. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Tangan Susy tetap berada di atas paha saya, lalu tangan kiri saya mulai beraksi membelai rambutnya, terus ke arah lehernya yang jenjang. Susy kelihatan menggelinjang ketika lehernya saya raba.
"Acchh.. Mas Bimo, jangan, Susy merinding nih.." katanya dengan nada mendesah membuat saya semakin bernafsu.
Saya tetap tidak peduli karena dia juga tidak menepis tangan saya, malah agak meremas paha saya. Tangan kiri saya juga tidak diam, saya remas-remas tangan kanan Susy dan sengaja saya taruh tepat di atas kemaluan saya.
"Sus, kamu cantik deh, kayak bintang film itu." kata saya mulai merayu.
"Masa sih Mas?" sepertinya dia terbuai dengan rayuan gombal saya. Dasar anak masih 17 tahun.
"Bener tuh, masa saya bohong, apalagi payudaranya sepertinya sama yang di film."
"Ih.. Mas Bimo bisa aja" katanya malu-malu.
 Cerita Sex ABG - Bercinta dengan Siswi SMK PKL
Adegan film berganti cerita di mana seorang wanita mengulum 2 batang kemaluan dan kemaluannya sedang dijilati oleh lelaki lain. Tangannya semakin keras memegang paha dan tangan saya.
"Kamu terangsang ngga Sus?" tanya saya.
Dia menoleh ke arah saya lalu tersenyum malu, wah... wajahnya nampak kemerahan dan bibirnya terlihat basah, apalagi ditambah wangi parfum yang dipakainya.
"Kalau Mas, terangsang ngga?" dia balik bertanya.
"Terus terang, aku sih terangsang, ditambah lagi nonton sama kamu yang benar-benar cantik," rayu saya, dan dia hanya tertawa kecil.
"Saya juga kayaknya terangsang Mas," katanya tanpa malu-malu.
Melihat situasi ini, tangan saya mulai meraba ke arah lain. Perlahan-lahan saya arahkan tangan kanan saya ke arah payudaranya dari luar baju seragam sekolahnya. Sedangkan tangan kiri, saya jatuhkan ke atas pahanya dan saya raba pahanya dengan penuh perasaan. Susy semakin menggelinjang keenakan. Mulus sekali tanpa cacat dan pahanya agak merenggang sedikit.
"Aaahh, jangan Mas, Susy takut, Susy belum pernah beginian, nanti ada orang masuk mass.. oohh.." katanya sambil tangan kanannya memegang dan meremas tangan kanan saya yang ada di atas pahanya yang sedang saya raba, sedangkan tangan kirinya memegang sandaran kursi.
Terasa sekali bahwa Susy juga terangsang akibat saya perlakukan seperti itu, apalagi ditambah dengan adegan film siswi Jepang yang cantik bertubuh seksi seperti Susy, yang disodok vaginanya dari belakang oleh seorang gurunya, seorang lelaki Jepang berusia setengah baya bertubuh kekar dan berisi seperti saya, di sebuah kelas.



Saya yang sudah tidak tahan lagi, tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan Susy. Karena saya tahu bahwa dia sebenarnya juga ingin menikmatinya. Tangan kanan saya makin meremas-meremas payudara sebelah kanannya.
"Oohh Maass.. jaangaan Maas.. ohh.." Susy semakin mendesah.
Tubuh Susy makin menggelinjang dan dia rapatkan tubuh serta kepalanya ke bukit dada saya yang kokoh. Tangan kiri saya pindah untuk meraba wajahnya yang sangat cantik dan manis. Turun ke leher terus turun ke bawah dan membuka dua kancing seragamnya. Terlihat gundukan belahan payudaranya yang putih dan mengencang di balik BH-nya. Tangan saya bermain di sekitar belahan dadanya sebelah kiri, saya remas-remas lalu pindah ke payudaranya yang sebelah kanan.
"Ooohh.. Maas Bimoo.. oohh.. jaangaann.. mmhh.." saya semakin bernafsu mendengar suara rintihannya menahan birahi yang bergejolak.
Dadanya semakin bergetar dan membusung ketika saya semakin meremas dan menarik BHnya ke atas. Terlihat putingnya yang kecil dan berwarna merah yang terasa mengeras. Tangan kanan saya yang sejak tadi meraba pahanya, secara perlahan-lahan masuk ke balik roknya yang tersingkap dan meraba-raba celananya, yang ketika saya pegang ternyata sudah basah.
"Ooohh.. Mass enakk.. teerruuss.. aahh.."
Kepala Susy mendongak menahan birahi yang sudah semakin meninggi. Terlihat bibir merah membasah. Secara spontan, saya cium bibirnya, ternyata dibalas dengan buasnya oleh Susy. Lidah kami saling mengulum dan saya arahkan lidah saya pada langit-langit bibirnya. Semakin tidak menentu saja getaran tubuh sintal Susy. Sambil berciuman saya pegang tangan kirinya yang di atas selangkangan dan saya suruh dia untuk meraba batang kejantanan saya yang sudah menegang dan kencang di balik celana panjang.
"Mmmhh.. mmhh.." saya tidak tahu apa yang akan dia ucapkan karena mulutnya terus saya kulum dan hisap. Segera saya lepas semua kancing seragamnya sambil tetap menciumi bibirnya. Tangan saya membuka BH yang kaitannya berada di depan, terlihat payudaranya yang putih bersih dan besar dan perutnya yang putih, mulus, kencang dan tanpa cacat. Saya raba dan saya remas seluruh payudaranya. Hal ini membuat sussy semakin menggelinjang. Tiba-tiba, Susy menarik diri dari ciuman saya.
"Mas.. jangan diterusin, Susy ngga pernah berbuat seperti ini." sepertinya dia sadar akan perbuatannya.
Dia menutupi payudaranya dengan seragamnya. Melihat seperti ini, perasaan saya was-was, jangan-jangan dia tidak mau meneruskan. Padahal saya sedang hot-hotnya berciuman dan meraba-raba tubuhnya. Tetapi birahi saya yang tinggi telah melupakan segalanya, saya mencari akal agar Susy mau melampiaskan birahi yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Jangan takut Sus, kita kan ngga akan berbuat jauh, saya cuma mau merasakan keindahan tubuh kamu."
"Tapi bukan seperti ini caranya."
"Bukannya kamu juga menikmati Sus?"
"Iya, tetapi Susy takut kalau sampai keterusan, Mas!"
"Percaya deh, Mas tidak akan berbuat ke arah sana."
Susy terdiam dan memandangi wajah saya, lalu saya membelai rambutnya. Saya tersenyum dan dia pun ikut tersenyum. Sepertinya dia percaya akan kata-kata saya. Film telah habis dan saya mematikan komputer. Saya berdiri dan secara tiba-tiba, saya mengangkat tubuh Susy.
"Maass, Susy mau dibawa ke mana?" dia berpegangan pada pundak saya yang bidang.
Baju seragamnya terbuka lagi dan nampak payudaranya yang montok.
"Kita duduk di sofa saja."
Saya angkat Susy dan saya pangku dia di sofa yang ada di dalam ruangan bos.
"Sus kamu cantik sekali.." rayu saya dan dia hanya tersenyum malu.
"Boleh saya mencium bibir kamu..?" dia diam saja dan tersenyum lagi. Semakin cantik saja wajahnya.
"Tapi janji ya Mas Bimo ngga akan berbuat seperti di film tadi?"
"Iya saya janji."
Susy terdiam lalu matanya terpejam.
Dengan spontan saya dekati wajahnya lalu saya cium keningnya, terus pipinya yang kiri dan kanan, setelah itu saya cium bibirnya. Ternyata dia membalas. Saya masukkan lidah saya ke dalam rongga mulutnya. Birahinya mulai bangkit lagi. Susy membalas ciuman saya dengan ganas dan nafsunya melumat bibir dan lidah saya. Tangannya meremas-remas kepala dan pundak saya. Ciuman berlangsung cukup lama sekitar 20 menit. Sengaja tangan saya tidak berbuat lebih jauh agar Susy percaya dulu bahwa saya tidak akan berbuat jauh. Setelah saya yakin Susy sudah lupa, tangan saya mulai meraba perutnya yang telah terbuka. Lalu perlahan-lahan naik ke payudaranya.
"Aaahh.. Mass teruuss.." desahnya.
Ternyata birahinya mengalahkan kekuatirannya. Dengan penuh kelembutan saya sentuh putingnya yang sudah mengeras.
"Aaahh.. aahh.. mmhh.." saya semakin meningkatkan kreatifitas saya.
Putingnya saya pilin-pilin. Tubuh Susy menggelinjang keenakan. Bibir saya turun ke bawah, saya jilati lehernya yang jenjang.
"Ooouuhh Mass, teruuss, enaak Maass." Susy terus mengeluh keenakan membuat libido saya makin meningkat.
Kemaluan saya terasa tegang sekali dan terasa sakit karena tertekan pantat Susy. Lalu saya rebahkan dia di sofa sambil tetap menciumi seluruh wajahnya. Lalu saya jilati payudaranya sebelah kanan.
"Maass Bimoo.." Susy berteriak keenakan.
Saya jilati putingnya dan saya hisap dengan keras.
"Aahh.. oouhh.. terruuss oohh.. enaakk."
Nampak putingnya semakin memerah. Lalu gantian putingnya yang sebelah kiri saya hisap. Seperti bayi yang kehausan, saya menyedot putingnya semakin keras. Susy makin menggelinjang dan berteriak-teriak. Tangan kiri saya lalu mulai meraba pahanya, saya buka pahanya, terus tangan saya meraba-raba ke atas dan ke arah selangkangannya. Jari saya menyentuh kemaluannya di atas celana dalam yang sudah basah.
Awalnya, "Oouhh Maass jangaann.." tetapi kemudian, "Oouughh Maass terruuss.."
Saya masukkan jari tangan saya ke mulut Susy, lalu dihisapnya jari saya dengan penuh nafsu.
"Mmmhh.." mulut saya terus tiada henti menghisap-hisap puting payudaranya secara bergantian.
Tangan saya terus menekan-nekan kemaluan Susy. Sambil saya hisap, tangan kanan meremas-remas payudaranya, sedangkan tangan kiri, saya masukkan jari telunjuk ke sela-sela celana dalamnya.
"Maass.. oohh.. janggaan oughh.. mmhh.." Susy terus mendesah-desah.



Tangannya meremas-remas sofa. Setelah puas meremas-remas payudaranya, saya pegang dan saya tuntun tangannya untuk memegang kemaluan saya yang sudah tegang di balik celana panjang. Tanggan Susy diam saja di atas celana saya, lalu tangannya saya dekap di kemaluan saya. Lama-kelamaan Susy mulai meremas-remas sendiri kemaluan saya.
"Oohh Sus.. enak Sus.. terus Sus.." walaupun kaku mengelusnya tetapi terasa nikmat sekali.
Jari tangan kiri saya pun terus meraba kemaluannya, terasa bulu-bulu halus dan masih jarang. Jari tangan saya tepat berada di atas vaginanya yang sudah sangat basah, saya tekan tangan saya dan jari telunjuk saya masukkan perlahan-lahan untuk mencari clitorisnya. Tubuh Susy semakin menggelinjang, pantatnya naik turun.
"Maass, jangan Maas.. Susy ngga kuat Maass.. ooughh.. aahh."
Saya tahu Susy akan mendekati klimak sebab tangannya mencengkeram erat kemaluan saya.
"Maass.. aahh.." tiba-tiba tubuh Susy mengejang hebat, tubuhnya bergetar kuat, tanda dia telah mencapai klimak.
Tubuhnya langsung lemas tidak berdaya, matanya terpejam. Saya kecup bibirnya dengan lembut, lalu matanya perlahan terbuka.
"Mas.. Susy sayang kamu."
"Saya juga sayang kamu Sus."
Saya kecup lagi bibirnya dan dia pun membalas sambil tersenyum. Saya lihat di payudaranya terdapat beberapa tanda merah bekas saya hisap.
"Ihh.. Mas nakal, tetek Susy dibikin merah.." dibiarkannya dadanya terlihat dengan bebas tanpa ditutupi.
"Habis tetek kamu montok dan gemesin sih.. besar lagi." kataku sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.
"Mas, kok anunya ngga keluar cairan kaya di film tadi sih..?" tanyanya tiba-tiba.
Rupanya dia benar-benar belum mengenal seks. Kebetulan nih untuk melanjutkan jurus yang kedua.
"Kamu pengen punyaku keluar air mani?" tanyaku.
"Iya, Susy pengen lihat, kayak apa sih?"
Tanpa pikir panjang, langsung saja saya buka celana panjang dan CD saya. Langsung saja kejantanan saya keluar dengan tegaknya. Ukuran punya saya besar, keras dan panjang sekitar 20 cm, dengan lebar 5 cm. Susy tampak tertegun saat dia melihat perut saya yang sixpack. Matanya tampak terbelalak ketika melihat senjata saya yang sudah sangat ingin merasakan kenikmatan duniawi. Batang kebanggaan saya yang sudah 'berprestasi besar', menikmati nikmatnya kemaluan dan anus para wanita sejak saya kehilangan keperjakaan 7 tahun yang lalu. Kisahnya saya akan ceritakan lain waktu.
"Ya ampun Mas.. besar banget punya Mas.."
Saya raih tangan Susy dan saya suruh dia meraba dan mengocoknya. Tampak Susy agak gugup dan gemetar karena baru sekali melihat langsung dan memegang jalantol laki-laki.
"Aah.. Sus enak banget, terus Sus.. ahh.."
Lama kelamaan Susy terbiasa dan merasa pintar mengocoknya. Saya remas-remas payudaranya.
"Mas, ahh.. Susy masih lemas.. ahh.."
"Sus, cium dong punyaku" pinta saya.
Langsung saja dia menciumi batang kejantanan saya, mungkin dia belajar dari film tadi.
"Terus Sus, emut Sus biar keluar aahh.. kamu pintar Sus.. emut Sus.." pinta saya lagi.
"Ngga mau, Susy ngeri, lagian ngga cukup di mulut Susy."
Posisi Susy duduk di sofa, sedangkan saya berdiri menghadap Susy.
Saya remas buah dada Susy, "Ahh Maass.."
Ketika dia membuka mulutnya, langsung saja saya masukkan batang kemaluan saya ke mulutnya dan saya keluar masukkan batang kejantanan saya.
"Mmmhh.. mmhh.." Susy sepertinya kaget, tetapi saya tidak peduli.
Lama-kelamaan justru Susy yang sekarang menyedot batang kejantanan saya.
"Aaahh.. Sus kamu pintar Sus.. terus ah.. enaak.."
Saya yang sudah ratusan kali berbuat seperti itu seharusnya masih bisa bertahan, tapi karena Sussy pintar sekali dalam melakukannya, jadinya mulai kewalahan. Sekitar 10 menit kemudian, saya hampir saja keluar, tetapi sekuat tenaga saya coba tahan. Susy rupanya sudah lupa diri, dia semakin bernafsu mengulum dan menyedot batang kemaluan saya, sedangkan kedua tangannya memegang pantat saya yang terpahat indah.
Cepat sekali dia belajar. Saya membungkuk dan kedua tangan meremas paha Susy, lalu saya buka kedua belah pahanya, Susy mengerti lalu merenggangkan pahanya sambil mengangkat pahanya. Segera saya buka resleting roknya dan saya angkat roknya sehingga nampak CD yang berwarna putih. Tangan kanan saya segera meraba dan menekan-nekan belahan vaginanya yang tertutup CD, sudah basah.

Cerita Sex ABG - Bercinta dengan Siswi SMK PKL
 "Iiih.. gambarnya vulgar banget Mas.." katanya.
"Itu sih belum seberapa, karena hanya gambar doang.." kata saya mulai memancing.
"Kalau kamu mau, saya punya filmnya." lanjut saya.
"Ngga ah, saya takut ketahuan orang." sepertinya dia masih takut kalau ada orang lain masuk.
"Percaya deh sama saya, lagian cuma film, kecuali kalau kita yang begituan...."
"Nah kan Mas Bimo mulai nakal.." katanya dengan nada menggoda dan membuat pikiran saya semakin jorok saja.
Lalu kami berdua tertawa. Kemudian saya membuka VCD porno yang memang sengaja sudah saya siapkan di dalam CD Room komputer. Saya mulai memutarnya dan beberapa saat terlihat adegan seorang wanita sedang mengulum kemaluan dua orang negro. Sedangkan kemaluan si wanita dimasuki dari belakang oleh seorang pemuda bule. Susy kelihatan diam saja tanpa berkedip, malah posisi duduknya mulai sudah tidak tenang.
"Kamu pernah lihat film beginian ngga Sus.."
"Belum pernah Mas, cuma gambar-gambar di majalah saja." jawabnya dengan suara agak gemetar.
Sepertinya dia mulai terangsang dengan adegan-adengan film tersebut.
"Kalau gitu saya matiin saja, ya Sus? Nanti kamu marah lagi.." kata saya pura-pura sok suci namun tetap mengelus-ngelus pundaknya.
"Aah ngga apa-apa kok Mas, sekalian buat pelajaran, tetapi Susy jangan di macem-macemin, ya Mas?"
"Iya.. iya.." kataku untuk menyakinkan, padahal dalam hati, si otong sudah tidak tahan.
Secara perlahan-lahan tangan saya mulai memegang dan mengelus tangannya, dia diam saja dan tidak ada tanda-tanda penolakan. Yang anehnya, dia diam saja ketika saya merapatkan duduknya dan saya pegang tangannya yang berbulu halus dan saya taruh di atas paha saya. Matanya tetap tertuju pada adegan film dan suaranya memang sengaja saya buat agak keras terdengar agar lebih nafsu menontonnya. Terdengar suara rintihan dan erangan dari di wanita, ketika kemaluannya disodok-sodok oleh si negro dengan kemaluaannya yang sangat besar dan panjang, sedangkan mulutnya dengan lahap mengulum batang kemaluan si bule.
Kini Susy semakin tidak tenang duduknya dan terdengar nafasnya agak berat bertanda nafsunya sedang naik. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Tangan Susy tetap berada di atas paha saya, lalu tangan kiri saya mulai beraksi membelai rambutnya, terus ke arah lehernya yang jenjang. Susy kelihatan menggelinjang ketika lehernya saya raba.
"Acchh.. Mas Bimo, jangan, Susy merinding nih.." katanya dengan nada mendesah membuat saya semakin bernafsu.
Saya tetap tidak peduli karena dia juga tidak menepis tangan saya, malah agak meremas paha saya. Tangan kiri saya juga tidak diam, saya remas-remas tangan kanan Susy dan sengaja saya taruh tepat di atas kemaluan saya.
"Sus, kamu cantik deh, kayak bintang film itu." kata saya mulai merayu.
"Masa sih Mas?" sepertinya dia terbuai dengan rayuan gombal saya. Dasar anak masih 17 tahun.
"Bener tuh, masa saya bohong, apalagi payudaranya sepertinya sama yang di film."
"Ih.. Mas Bimo bisa aja" katanya malu-malu.
Adegan film berganti cerita di mana seorang wanita mengulum 2 batang kemaluan dan kemaluannya sedang dijilati oleh lelaki lain. Tangannya semakin keras memegang paha dan tangan saya.
"Kamu terangsang ngga Sus?" tanya saya.
Dia menoleh ke arah saya lalu tersenyum malu, wah... wajahnya nampak kemerahan dan bibirnya terlihat basah, apalagi ditambah wangi parfum yang dipakainya.
"Kalau Mas, terangsang ngga?" dia balik bertanya.
"Terus terang, aku sih terangsang, ditambah lagi nonton sama kamu yang benar-benar cantik," rayu saya, dan dia hanya tertawa kecil.
"Saya juga kayaknya terangsang Mas," katanya tanpa malu-malu.
Melihat situasi ini, tangan saya mulai meraba ke arah lain. Perlahan-lahan saya arahkan tangan kanan saya ke arah payudaranya dari luar baju seragam sekolahnya. Sedangkan tangan kiri, saya jatuhkan ke atas pahanya dan saya raba pahanya dengan penuh perasaan. Susy semakin menggelinjang keenakan. Mulus sekali tanpa cacat dan pahanya agak merenggang sedikit.
"Aaahh, jangan Mas, Susy takut, Susy belum pernah beginian, nanti ada orang masuk mass.. oohh.." katanya sambil tangan kanannya memegang dan meremas tangan kanan saya yang ada di atas pahanya yang sedang saya raba, sedangkan tangan kirinya memegang sandaran kursi.
Terasa sekali bahwa Susy juga terangsang akibat saya perlakukan seperti itu, apalagi ditambah dengan adegan film siswi Jepang yang cantik bertubuh seksi seperti Susy, yang disodok vaginanya dari belakang oleh seorang gurunya, seorang lelaki Jepang berusia setengah baya bertubuh kekar dan berisi seperti saya, di sebuah kelas.
Saya yang sudah tidak tahan lagi, tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan Susy. Karena saya tahu bahwa dia sebenarnya juga ingin menikmatinya. Tangan kanan saya makin meremas-meremas payudara sebelah kanannya.
"Oohh Maass.. jaangaan Maas.. ohh.." Susy semakin mendesah.
Tubuh Susy makin menggelinjang dan dia rapatkan tubuh serta kepalanya ke bukit dada saya yang kokoh. Tangan kiri saya pindah untuk meraba wajahnya yang sangat cantik dan manis. Turun ke leher terus turun ke bawah dan membuka dua kancing seragamnya. Terlihat gundukan belahan payudaranya yang putih dan mengencang di balik BH-nya. Tangan saya bermain di sekitar belahan dadanya sebelah kiri, saya remas-remas lalu pindah ke payudaranya yang sebelah kanan.
"Ooohh.. Maas Bimoo.. oohh.. jaangaann.. mmhh.." saya semakin bernafsu mendengar suara rintihannya menahan birahi yang bergejolak.
Dadanya semakin bergetar dan membusung ketika saya semakin meremas dan menarik BHnya ke atas. Terlihat putingnya yang kecil dan berwarna merah yang terasa mengeras. Tangan kanan saya yang sejak tadi meraba pahanya, secara perlahan-lahan masuk ke balik roknya yang tersingkap dan meraba-raba celananya, yang ketika saya pegang ternyata sudah basah.


"Ooohh.. Mass enakk.. teerruuss.. aahh.."
Kepala Susy mendongak menahan birahi yang sudah semakin meninggi. Terlihat bibir merah membasah. Secara spontan, saya cium bibirnya, ternyata dibalas dengan buasnya oleh Susy. Lidah kami saling mengulum dan saya arahkan lidah saya pada langit-langit bibirnya. Semakin tidak menentu saja getaran tubuh sintal Susy. Sambil berciuman saya pegang tangan kirinya yang di atas selangkangan dan saya suruh dia untuk meraba batang kejantanan saya yang sudah menegang dan kencang di balik celana panjang.
"Mmmhh.. mmhh.." saya tidak tahu apa yang akan dia ucapkan karena mulutnya terus saya kulum dan hisap. Segera saya lepas semua kancing seragamnya sambil tetap menciumi bibirnya. Tangan saya membuka BH yang kaitannya berada di depan, terlihat payudaranya yang putih bersih dan besar dan perutnya yang putih, mulus, kencang dan tanpa cacat. Saya raba dan saya remas seluruh payudaranya. Hal ini membuat sussy semakin menggelinjang. Tiba-tiba, Susy menarik diri dari ciuman saya.
"Mas.. jangan diterusin, Susy ngga pernah berbuat seperti ini." sepertinya dia sadar akan perbuatannya.
 Cerita Sex ABG - Bercinta dengan Siswi SMK PKL
Dia menutupi payudaranya dengan seragamnya. Melihat seperti ini, perasaan saya was-was, jangan-jangan dia tidak mau meneruskan. Padahal saya sedang hot-hotnya berciuman dan meraba-raba tubuhnya. Tetapi birahi saya yang tinggi telah melupakan segalanya, saya mencari akal agar Susy mau melampiaskan birahi yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Jangan takut Sus, kita kan ngga akan berbuat jauh, saya cuma mau merasakan keindahan tubuh kamu."
"Tapi bukan seperti ini caranya."
"Bukannya kamu juga menikmati Sus?"



"Iya, tetapi Susy takut kalau sampai keterusan, Mas!"
"Percaya deh, Mas tidak akan berbuat ke arah sana."
Susy terdiam dan memandangi wajah saya, lalu saya membelai rambutnya. Saya tersenyum dan dia pun ikut tersenyum. Sepertinya dia percaya akan kata-kata saya. Film telah habis dan saya mematikan komputer. Saya berdiri dan secara tiba-tiba, saya mengangkat tubuh Susy.
"Maass, Susy mau dibawa ke mana?" dia berpegangan pada pundak saya yang bidang.
Baju seragamnya terbuka lagi dan nampak payudaranya yang montok.
"Kita duduk di sofa saja."
Saya angkat Susy dan saya pangku dia di sofa yang ada di dalam ruangan bos.
"Sus kamu cantik sekali.." rayu saya dan dia hanya tersenyum malu.
"Boleh saya mencium bibir kamu..?" dia diam saja dan tersenyum lagi. Semakin cantik saja wajahnya.
"Tapi janji ya Mas Bimo ngga akan berbuat seperti di film tadi?"
"Iya saya janji."
Susy terdiam lalu matanya terpejam.
Dengan spontan saya dekati wajahnya lalu saya cium keningnya, terus pipinya yang kiri dan kanan, setelah itu saya cium bibirnya. Ternyata dia membalas. Saya masukkan lidah saya ke dalam rongga mulutnya. Birahinya mulai bangkit lagi. Susy membalas ciuman saya dengan ganas dan nafsunya melumat bibir dan lidah saya. Tangannya meremas-remas kepala dan pundak saya. Ciuman berlangsung cukup lama sekitar 20 menit. Sengaja tangan saya tidak berbuat lebih jauh agar Susy percaya dulu bahwa saya tidak akan berbuat jauh. Setelah saya yakin Susy sudah lupa, tangan saya mulai meraba perutnya yang telah terbuka. Lalu perlahan-lahan naik ke payudaranya.
"Aaahh.. Mass teruuss.." desahnya.
Ternyata birahinya mengalahkan kekuatirannya. Dengan penuh kelembutan saya sentuh putingnya yang sudah mengeras.
"Aaahh.. aahh.. mmhh.." saya semakin meningkatkan kreatifitas saya.
Putingnya saya pilin-pilin. Tubuh Susy menggelinjang keenakan. Bibir saya turun ke bawah, saya jilati lehernya yang jenjang.
"Ooouuhh Mass, teruuss, enaak Maass." Susy terus mengeluh keenakan membuat libido saya makin meningkat.
Kemaluan saya terasa tegang sekali dan terasa sakit karena tertekan pantat Susy. Lalu saya rebahkan dia di sofa sambil tetap menciumi seluruh wajahnya. Lalu saya jilati payudaranya sebelah kanan.
"Maass Bimoo.." Susy berteriak keenakan.
Saya jilati putingnya dan saya hisap dengan keras.
"Aahh.. oouhh.. terruuss oohh.. enaakk."
Nampak putingnya semakin memerah. Lalu gantian putingnya yang sebelah kiri saya hisap. Seperti bayi yang kehausan, saya menyedot putingnya semakin keras. Susy makin menggelinjang dan berteriak-teriak. Tangan kiri saya lalu mulai meraba pahanya, saya buka pahanya, terus tangan saya meraba-raba ke atas dan ke arah selangkangannya. Jari saya menyentuh kemaluannya di atas celana dalam yang sudah basah.
Awalnya, "Oouhh Maass jangaann.." tetapi kemudian, "Oouughh Maass terruuss.."
Saya masukkan jari tangan saya ke mulut Susy, lalu dihisapnya jari saya dengan penuh nafsu.
"Mmmhh.." mulut saya terus tiada henti menghisap-hisap puting payudaranya secara bergantian.
Tangan saya terus menekan-nekan kemaluan Susy. Sambil saya hisap, tangan kanan meremas-remas payudaranya, sedangkan tangan kiri, saya masukkan jari telunjuk ke sela-sela celana dalamnya.



"Maass.. oohh.. janggaan oughh.. mmhh.." Susy terus mendesah-desah.
Tangannya meremas-remas sofa. Setelah puas meremas-remas payudaranya, saya pegang dan saya tuntun tangannya untuk memegang kemaluan saya yang sudah tegang di balik celana panjang. Tanggan Susy diam saja di atas celana saya, lalu tangannya saya dekap di kemaluan saya. Lama-kelamaan Susy mulai meremas-remas sendiri kemaluan saya.
"Oohh Sus.. enak Sus.. terus Sus.." walaupun kaku mengelusnya tetapi terasa nikmat sekali.
Jari tangan kiri saya pun terus meraba kemaluannya, terasa bulu-bulu halus dan masih jarang. Jari tangan saya tepat berada di atas vaginanya yang sudah sangat basah, saya tekan tangan saya dan jari telunjuk saya masukkan perlahan-lahan untuk mencari clitorisnya. Tubuh Susy semakin menggelinjang, pantatnya naik turun. 

Bercinta Di Kamar Temanku



Agen Bola Online Piala Dunia FIFA 2014 bermula ketika seorang lelaki yang terlibat cerita seru dengan tantenya sendiri dan tentunya cerita ini amat sangat banyak sekali mengandung cerita panas dengan unsur kisah seorang dewasa seperti halnya dengan artikel cerita dewasa lainnya, dengan demikian cerita panas sedarah ini akan lebih seru untuk anda baca dari komputer anda.

Judi Bola Piala Dunia 2014 Pada dasarnya cerita panas sedarah ini saya dapatkan dari situs hasratseks.org dan sengaja saya bagikan untuk anda semua, namun yang perlu diperhatikan bahwa cerita ini khusus bagi anda yang sudah dewasa dan jika anda masih dibawah umur atau masih abg saya harap untuk tidak membaca cerita ini ada baiknya jika anda membaca artikel yang lain saja di situs ini. Nah tanpa banyak basa basi lagi silakan saja anda baca sendiri ceritanya dibawah ini.

Cerita seks ini adalah sebuah pengalaman sekaligus jalan hidupku yang penuh liku. Aku yang saat itu masih smp dan ingin sekolah dijakarta ternyata diijinkan oleh kedua orang tuaku. Akhirnya aku pergi kerumah tanteku yang ada di jakarta. Saat didesa dulu aku tidak pernah tahu tentang apa itu seks dan cerita seks. Tapi saat beranjak dewasa aku mulai tahu tentang banyak hal tentang seks dirumah tanteku yani. Mulai dari majalah porno, video bokep sampai dengan foto-foto cewek bugil semua aku tahu.

Memang saat dijakarta menjadi sebuah kenangan manis sekaligus kenakalan masa remajaku. mulai tahu ngentot dan belajar ngentot sama perawan maupun ngentot sama tante girang. Sudah berpuluh-puluh kali aq ngentot sama tante girang dan semua berakhir dengan kontolku yang lemas gemulai. Tapi gapapa deh yang penting aku puas. Eh kok ngalor ngidul ga jelas. mending kita mulai saja yuk cerita seks indonesia kali ini http://mediaterbaru.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gifselamat menyimak pembaca yang budiman. .
Aku ke Jakarta atas seizin orang tuaku, bahkan merekalah yang mendorongnya. Pada mulanya aku sebenarnya enggan meninggalkan keluargaku, tapi ayahku menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah ke STM. Aku lebih suka kerja saja di Purwokerto. Aku menerima usulan ayahku asalkan sekolah di SMA (sekarang SMU) dan tidak di kampung. Dia memberi alamat adik misannya yang telah sukses dan tinggal di bilangan Tebet, Jakarta. Ayahku sangat jarang berhubungan dengan adik misannya itu. Paling hanya beberapa kali melalui surat, karena telepon belum masuk ke desaku. Kabar terakhir yang aku dengar dari ayahku, adik misannya itu, sebut saja Oom Ton, punya usaha sendiri dan sukses, sudah berkeluarga dengan satu anak lelaki umur 4 tahun dan berkecukupan. Rumahnya lumayan besar. Jadi, dengan berbekal alamat, dua pasang pakaian, dan uang sekedarnya, aku berangkat ke Jakarta. Satu-satunya petunjuk yang aku punyai: naik KA pagi dari Purwokerto dan turun di stasiun Manggarai. Tebet tak jauh dari stasiun ini.

Stasiun Manggarai, pukul 15.20 siang aku dicekam kebingungan. Begitu banyak manusia dan kendaraan berlalu lalang, sangat jauh berbeda dengan suasana desaku yang sepi dan hening. Singkat cerita, setelah ?berjuang? hampir 3 jam, tanya ke sana kemari, dua kali naik mikrolet (sekali salah naik), sekali naik ojek yang mahalnya bukan main, sampailah aku pada sebuah rumah besar dengan taman yang asri yang cocok dengan alamat yang kubawa.



Berdebar-debar aku masuki pintu pagar yang sedikit terbuka, ketok pintu dan menunggu. Seorang wanita muda, berkulit bersih, dan .. ya ampun, menurutku cantik sekali (mungkin di desaku tidak ada wanita cantik), berdiri di depanku memandang dengan sedikit curiga. Setelah aku jelaskan asal-usulku, wajahnya berubah cerah. ?Tarto, ya ? Ayo masuk, masuk. Kenalkan, saya Tantemu.? Dengan gugup aku menyambut tangannya yang terjulur. Tangan itu halus sekali. ?Tadinya Oom Ton mau jemput ke Manggarai, tapi ada acara mendadak. Tante engga sangka kamu sudah sebesar ini. Naik apa tadi, nyasar, ya ?? Cecarnya dengan ramah. ?Maaar, bikin minuman!? teriaknya kemudian. Tak berapa lama datang seorang wanita muda meletakkan minuman ke meja dengan penuh hormat. Wanita ini ternyata pembantu, aku kira keponakan atau anggota keluarga lainnya, sebab terlalu ?trendy? gaya pakaiannya untuk seorang pembantu.

Sungguh aku tak menduga sambutan yang begitu ramah. Menurut cerita yang aku dengar, orang Jakarta terkenal individualis, tidak ramah dengan orang asing, antar tetangga tak saling kenal. Tapi wanita tadi, isteri Oomku, Tante Yani namanya (?Panggil saja Tante,? katanya akrab) ramah, cantik lagi. Tentu karena aku sudah dikenalkannya oleh Oom Ton.



Aku diberi kamar sendiri, walaupun agak di belakang tapi masih di rumah utama, dekat dengan ruang keluarga. Kamarku ada AC-nya, memang seluruh ruang yang ada di rumah utama ber-AC. Ini suatu kemewahan bagiku. Dipanku ada kasur yang empuk dan selimut tebal. Walaupun AC-nya cukup dingin, rasanya aku tak memerlukan selimut tebal itu. Mungkin aku cukup menggunakan sprei putih tipis yang di lemari itu untuk selimut. Rumah di desaku cukup dingin karena letaknya di kaki gunung, aku tak pernah pakai selimut, tidur di dipan kayu hanya beralas tikar. Aku diberi ?kewenangan? untuk mengatur kamarku sendiri.

Aku masih merasa canggung berada di rumah mewah ini. Petang itu aku tak tahu apa yang musti kukerjakan. Selesai beres-beres kamar, aku hanya bengong saja di kamar. ?Too, sini, jangan ngumpet aja di kamar,? Tante memanggilku. Aku ke ruang keluarga. Tante sedang duduk di sofa nonton TV. ?Sudah lapar, To ?? ?Belum Tante.? Sore tadi aku makan kue-kue yang disediakan Si Mar. ?Kita nunggu Oom Ton ya, nanti kita makan malam bersama-sama.? Oom Ton pulang kantor sekitar jam 19 lewat. ?Selamat malam, Oom,? sapaku. ?Eh, Ini Tarto ? Udah gede kamu.? ?Iya Oom.? ?Gimana kabarnya Mas Kardi dan Yu Siti,? Oom menanyakan ayah dan ibuku. ?Baik-baik saja Oom.? Di meja makan Oom banyak bercerita tentang rencana sekolahku di Jakarta. Aku akan didaftarkan ke SMA Negeri yang dekat rumah. Aku juga diminta untuk menjaga rumah sebab Oom kadang-kadang harus ke Bandung atau Surabaya mengurusi bisnisnya. ?Iya, saya kadang-kadang takut juga engga ada laki-laki di rumah,? timpal Tante. ?Berapa umurmu sekarang, To ?? ?Dua bulan lagi saya 16 tahun, Oom.? ?Badanmu engga sesuai umurmu.?

***

Hari-hari baruku dimulai. Aku diterima di SMA Negeri 26 Tebet, tak jauh dari rumah Oom dan Tanteku. Ke sekolah cukup berjalan kaki. Aku memang belum sepenuhnya dapat melepas kecanggunganku. Bayangkan, orang udik yang kuper tamatan ST (setingkat SLTP) sekarang sekolah di SMA metropolitan. Kawan sekolah yang biasanya lelaki melulu, kini banyak teman wanita, dan beberapa diantaranya cantik-cantik. Cantik ? Ya, sejak aku di Jakarta ini jadi tahu mana wanita yang dianggap cantik, tentunya menurut ukuranku. Dan tanteku, Tante Yani, isteri Oom Ton menurutku paling cantik, dibandingkan dengan kawan-kawan sekolahku, dibanding dengan tante sebelah kiri rumah, atau gadis (mahasiswi ?) tiga rumah ke kanan. Cepat-cepat kuusir bayangan wajah tanteku yang tiba-tiba muncul. Tak baik membayangkan wajah tante sendiri. Pada umumnya teman-teman sekolahku baik, walaupun kadang-kadang mereka memanggilku ?Jawa?, atau meledek cara bicaraku yang mereka sebut ?medok?. Tak apalah, tapi saya minta mereka panggil saja Tarto. Alasanku, kalau memanggil ?Jawa?, toh orang Jawa di sekolah itu bukan hanya aku. Mereka akhirnya mau menerima usulanku. Terus terang aku di kelas menjadi cepat populer, bukan karena aku pandai bergaul. Dibandingkan teman satu kelas tubuhku paling tinggi dan paling besar. Bukan sombong, aku juga termasuk murid yang pintar. Aku memang serius kalau belajar, kegemaranku membaca menunjang pengetahuanku.


Kegemaranku membaca inilah yang mendorongku bongkar-bongkar isi rak buku di kamarku di suatu siang pulang sekolah. Rak buku ini milik Oom Ton. Nah, di antara tumpukan buku, aku menemukan selembar majalah bergambar, namanya Popular.

Rupanya penemuan majalah inilah merupakan titik awalku belajar mandiri tentang wanita. Tidak sendiri sebetulnya, sebab ada ?guru? yang diam-diam membimbingku. Kelak di kemudian hari aku baru tahu tentang ?guru? itu.

Majalah itu banyak memuat gambar-gambar wanita yang bagus, maksudnya bagus kualitas fotonya dan modelnya. Dengan berdebar-debar satu-persatu kutelusuri halaman demi halaman. Ini memang majalah hiburan khusus pria. Semua model yang nampang di majalah itu pakaiannya terbuka dan seronok. Ada yang pakai rok demikian pendeknya sehingga hampir seluruh pahanya terlihat, dan mulus. Ada yang pakai blus rendah dan membungkuk memperlihatkan bagian belahan buah dada. Dan, ini yang membuat jantungku keras berdegup : memakai T-shirt yang basah karena disiram, sementara dalamnya tidak ada apa-apa lagi. Samar-samar bentuk sepasang buah kembar kelihatan. Oh, begini tho bentuk tubuh wanita. Dasarnya aku sangat jarang ketemu wanita. Kalau ketemu-pun wanita desa atau embok-embok, dan yang aku lihat hanya bagian wajah. Bagaimana aku tidak deg-deg-an baru pertama kali melihat gambar tubuh wanita, walaupun hanya gambar paha dan sebagian atas dada.



Sejak ketemu majalah Popular itu aku jadi lain jika memandang wanita teman kelasku. Tidak hanya wajahnya yang kulihat, tapi kaki, paha dan dadanya ?kuteliti?. Si Rika yang selama ini aku nilai wajahnya lumayan dan putih, kalau ia duduk menyilangkan kakinya ternyata memiliki paha mulus agak mirip foto di majalah itu. Memang hanya sebagian paha bawah saja yang kelihatan, tapi cukup membuatku tegang. Ya tegang. ?Adikku? jadi keras! Sebetulnya penisku menjadi tegang itu sudah biasa setiap pagi. Tapi ini tegang karena melihat paha mulus Rika adalah pengalaman baru bagiku. Sayangnya dada Rika tipis-tipis saja. Yang dadanya besar si Ani, demikian menonjol ke depan. Memang ia sedikit agak gemuk. Aku sering mencuri pandang ke belahan kemejanya. Dari samping terkadang terbuka sedikit memperlihatkan bagian dadanya di sebelah kutang. Walau terlihat sedikit cukup membuatku ?ngaceng?. Sayangnya, kaki Ani tak begitu bagus, agak besar. Aku lalu membayangkan bagaimana bentuk dada Ani seutuhnya, ah ngaceng lagi! Atau si Yuli. Badannya biasa-biasa saja, paha dan kaki lumayan berbentuk, dadanya menonjol wajar, tapi aku senang melihat wajahnya yang manis, apalagi senyumnya. Satu lagi, kalau ia bercerita, tangannya ikut ?sibuk?. Maksudku kadang mencubit, menepuk, memukul, dan, ini dia, semua roknya berpotongan agak pendek. Ah, aku sekarang punya ?wawasan? lain kalau memandang teman-teman cewe.

Ah! Tante Yani! Ya, kenapa selama ini aku belum ?melihat dengan cara lain?? Mungkin karena ia isteri Oomku, orang yang aku hormati, yang membiayai hidupku, sekolahku. Mana berani aku ?menggodanya? meskipun hanya dari cara memandang. Sampai detik ini aku melihat Tante Yani sebagai : wajahnya putih bersih dan cantik. Tapi dasar setan selalu menggoda manusia, bagaimana tubuhnya ? Ah, aku jadi pengin cepat-cepat pulang sekolah untuk ?meneliti? Tanteku. Jangan ah, aku menghormati Tanteku.

Aduh! Kenapa begini ? Apanya yang begini ? Tante Yani! Seperti biasa, kalau pulang aku masuk dari pintu pagar langsung ke garasi, lalu masuk dari pintu samping rumah ke ruang keluarga di tengah-tengah rumah. Melewati ruang keluarga, sedikit ke belakang sampai ke kamarku. Isi ruang keluarga ini dapat kugambarkan : di tengahnya terhampar karpet tebal yang empuk yang biasa digunakan tante untuk membaca sambil rebahan, atau sedang dipijit Si Mar kalau habis senam. Agak di belakang ada satu set sofa dan pesawat TV di seberangnya. Sewaktu melewati ruang keluarga, aku menjumpai Tante Yani duduk di kursi dekat TV menyilang kaki sedang menyulam, berpakaian model kimono. Duduknya persis si Rika tadi pagi, cuma kaki Tante jauh lebih indah dari Rika. Putih, bersih, panjang, di betis bawahnya dihiasi bulu-bulu halus ke atas sampai paha. Ya, paha, dengan cara duduk menyilang, tanpa disadari Tante belahan kimononya tersingkap hingga ke bagian paha agak atas. Tanpa sengaja pula aku jadi tahu bahwa tante memiliki paha selain putih bersih juga berbulu lembut. Sejenak aku terpana, dan lagi-lagi tegang. Untung aku cepat sadar dan untung lagi Tante begitu asyik menyulam sehingga tidak melihat ulah keponakannya yang dengan kurang ajar ?memeriksa? pahanya. Ah, kacau.



Sebenarnya tidak sekali ini aku melihat Tante memakai kimono. Kenapa aku tadi terangsang mungkin karena ?penghayatan? yang lain, gara-gara majalah itu. Selesai makan ada dorongan aku ingin ke ruang tengah, meneruskan ?penelitianku? tadi. Aku ada alasan lain tentu saja, nonton TV swasta, hal baru bagiku. Mungkin aku mulai kurang ajar : mengambil posisi duduk di sofa nonton TV tepat di depan Tante, searah-pandang kalau mengamati pahanya! ?Gimana sekolahmu tadi To ?? tanya Tante tiba-tiba yang sempat membuatku kaget sebab sedang memperhatikan bulu-bulu kakinya. ?Biasa-biasa saja Tante.? ?Biasa gimana ? Ada kesulitan engga ?? ?Engga Tante.? ?Udah banyak dapat kawan ?? ?Banyak, kawan sekelas.? ?Kalau kamu pengin main lihat-lihat kota, silakan aja.? ?Terima kasih, Tante. Saya belum hafal angkutannya.? ?Harus dicoba, yah nyasar-nyasar dikit engga apa-apa, toh kamu tahu jalan pulang.? ?Iya Tante, mungkin hari Minggu saya akan coba.? ?Kalau perlu apa-apa, uang jajan misalnya atau perlu beli apa, ngomong aja sama Tante, engga usah malu-malu.? Gimana kurang baiknya Tanteku ini, keponakannya saja yang nakal. Nakal ? Ah ?kan cuma dalam pikiran saja, lagi pula hanya ?meneliti? kaki yang tanpa sengaja terlihat, apa salahnya. ?Terima kasih Tante, uang yang kemarin masih ada kok.? ?Emang kamu engga jajan di sekolah ?? Berdesir darahku. Sambil mengucapkan ?jajan? tadi Tante mengubah posisi kakinya sehingga sekejap, tak sampai sedetik, sempat terlihat warna merah jambu celana dalamnya! Aku berusaha keras menenangkan diri. ?Jajan juga sih, hanya minuman dan makanan kecil.? Akupun ikut-ikutan mengubah posisi, ada sesuatu yang mengganjal di dalam celanaku. Untung Tante tidak memperhatikan perubahan wajahku. Sepanjang siang ini aku bukannya nonton TV. Mataku lebih sering ke arah Tante, terutama bagian bawahnya!

Hari-hari berikutnya tak ada kejadian istimewa. Rutin saja, sekolah, makan siang, nonton TV, sesekali melirik kaki Tante. Oom Ton pulang kantor selalu malam hari. Saat ketemu Oomku hanya pada makan malam, bertiga. Si Luki, anak lelakinya 4 tahun biasanya sudah tidur. Kalau Luki sudah tidur, Tinah, pengasuhnya pamitan pulang. Pada acara makan malam ini, sebetulnya aku punya kesempatan untuk menikmati? (cuma dengan mata) paha mulus berbulu Tante, sebab malam ini ia memakai rok pendek, biasanya memakai daster. Tapi mana berani aku menatap pemandangan indah ini di depan Oom. Betapa bahagianya mereka menurut pandanganku. Oom tamat sekolahnya, punya usaha sendiri yang sukses, punya isteri yang cantik, putih, mulus. Anak hanya satu. Punya sopir, seorang pembantu, Si Mar dan seorang baby sitter Si Tinah. Sopir dan baby sitter tidak menginap, hanya pembantu yang punya kamar di belakang. Praktis Tante Yani banyak waktu luang. Anak ada yang mengasuh, pekerjaan rumah tangga beres ditangan pembantu. Oh ya, ada seorang lagi, pengurus taman biasa di panggil Mang Karna, sudah agak tua yang datang sewaktu-waktu, tidak tiap hari.

Keesokkan harinya ada kejadian ?penting? yang perlu kuceritakan. Pagi-pagi ketika aku sedang menyusun buku-buku yang akan kubawa ke sekolah, ada beberapa lembar halaman yang mungkin lepasan atau sobekan dari majalah luar negeri terselip di antara buku-buku pelajaranku. Aku belum sempat mengamati lembaran itu, karena buru-buru mau berangkat takut telat. Di sekolah pikiranku sempat terganggu ingat sobekan majalah berbahasa Inggris itu, milik siapa ? Tadi pagi sekilas kulihat ada gambarnya wanita hanya memakai celana jean tak berbaju. Inilah yang mengganggu pikiranku. Sempat kubayangkan, bagaimana kalau Ani hanya memakai jean. Kaki dan pahanya yang kurang bagus tertutup, sementara bulatan dadanya yang besar terlihat jelas. Ah.. nakal kamu To!

Pulang sekolah tidak seperti biasa aku tidak langsung ke meja makan, tapi ngumpet di kamarku. Pintu kamar kukunci dan mulai mengamati sobekan majalah itu. Ada 4 lembar, kebanyakan tulisan yang tentu saja tidak kubaca. Aku belum paham Bahasa Inggris. Di setiap pojok bawah lembaran itu tertulis: Penthouse. Langsung saja ke gambar. Gemetaran aku dibuatnya. Wanita bule, berpose membusungkan dadanya yang besar, putih, mulus, dan terbuka seluruhnya! Paha dan kakinya meskipun tertutup jean ketat, tapi punya bentuk yang indah, panjang, persis kaki milik Tante. Hah, kenapa aku jadi membandingkan dengan tubuh Tante ? Peduli amat, tapi itulah yang terbayang. Kenapa aku sebut kejadian penting, karena baru sekaranglah aku tahu bentuk utuh sepasang buah dada, meskipun hanya dari foto. Bulat, di tengah ada bulatan kecil warna coklat, dan di tengah-tengah bulatan ada ujungnya yang menonjol keluar. Segera saja tubuhku berreaksi, penisku tegang, dada berdebar-debar. Halaman berikutnya membuatku lemas, mungkin belum makan. Masih wanita bule yang tadi tapi sekarang di close-up. Buah dadanya makin jelas, sampai ke pori-porinya. Ini kesempatanku untuk ?mempelajari? anatomi buah kembar itu. Dari atas kulit itu bergerak naik, sampai puting yang merupakan puncaknya, kemudian turun lagi ?membulat?. Ya, beginilah bentuk buah dada wanita. Putingnya, apakah selalu menonjol keluar seperti menunjuk ke depan ? Jawabannya baru tahu kelak kemudian hari ketika aku ?praktek?. Tiba-tiba terlintas pikiran nakal, Tante Yani! Bagaimana ya bentuk buah dada Tanteku itu ? Ah, kenapa selama ini aku tak memperhatikannya. Asyik lihat ke bawah terus sih! Memang kesempatannya baru lihat paha. Kimono Tante waktu itu, kalau tak salah, tertutup sampai dibawah lehernya. Tapi ?kan bisa lihat bentuk luarnya. Ah, memang mataku tak sampai kesitu. Melihat bentuk paha dan kaki cewe bule ini mirip milik Tante, aku rasa bentuk dadanyapun tak jauh berbeda, begitu aku mencoba memperkirakan. Begitu banyak aku berdialog dengan diri sendiri tentang buah dada. Begitu banyak pertanyaan yang bermuara pada pertanyaan inti : Bagaimana bentuk buah dada Tanteku yang cantik itu ? Untungnya, atau celakanya, pertanyaanku itu segera mendapat jawaban, di meja makan. Di pertengahan makan siangku, Tante muncul istimewa. Mengenakan baju-mandi, baju mirip kimono tapi pendek dari bahan seperti handuk tapi lebih tipis warna putih dan ada pengikat di pinggangnya. Tante kelihatan lain siang itu, segar, cerah. Kelihatannya baru selesai mandi dan keramas, sebab rambutnya diikat handuk ke atas mirip ikat kepala para syeh. ?Oh, kamu sudah pulang, engga kedengaran masuknya,? sapanya ramah sambil berjalan menuju ke tempatku. ?Dari tadi Tante,? jawabku singkat. Ia berhenti, berdiri tak jauh dari dudukku. Kedua tangannya ke atas membenahi handuk di rambutnya. Posisi tubuh Tante yang beginilah memberi jawaban atas pertanyaanku tadi. Luar biasa! Besar juga buah dada Tante ini, persis seperti perkiraanku tadi, bentuknya mirip punya cewe bule di Penthouse tadi.

Meskipun aku melihatnya masih ?terbungkus? baju-mandi, tapi jelas alurnya, bulat menonjol ke depan. Di bagian kanan baju mandinya rupanya ada yang basah, ini makin mempertegas bentuk buah indah itu. Samar-samar aku bisa melihat lingkaran kecil di tengahnya. Sehabis mandi mungkin hanya baju-mandi itu saja yang membungkus tubuhnya sekarang. Bawahnya aku tak tahu. Bawahnya! Ya, aku melupakan pahanya. Segera saja mataku turun. Kini lebih jelas, bulu-bulu lembut di pahanya seperti diatur, berbaris rapi. Ah aku sekarang lagi tergila-gila buah dada. Pandanganku ke atas lagi. Mudah-mudahan ia tak melihatku melahap (dengan mata) tubuhnya. Memang ia tidak memperhatikanku, pandangannya ke arah lain masih terus asyik merapikan rambutnya. Tapi aku tak bisa berlama-lama begini, disamping takut ketahuan, lagipula aku ?kan sedang makan. Kuteruskan makanku. Bagaimana reaksi tubuhku, susah diceritakan. Yang jelas kelaminku tegang luar biasa. Tiba-tiba ia menarik kursi makan di sebelahku dan duduk. Ah, wangi tubuhnya terhirup olehku. ?Makan yang banyak, tambah lagi tuh ayamnya.? Bagaimana mau makan banyak, kalau ?diganggu? seperti ini. Aku mengiakan saja. Rupanya ?gangguan nikmat? belum selesai. Aku duduk menghadap ke utara. Di dekatku duduk si Badan-sintal yang habis mandi, menghadap ke timur. Aku bebas melihat tubuhnya dari samping kiri. Ia menundukkan kepalanya dan mengurai rambutnya ke depan. Dengan posisi seperti ini, badan agak membungkuk ke depan dan satu-satunya pengikat baju ada di pinggang, dengan serta merta baju mandinya terbelah dan menampakkan pemandangan yang bukan main. Buah dada kirinya dapat kulihat dari samping dengan jelas. Ampun.. putihnya, dan membulat. Kalau aku menggeser kepalaku agak ke kiri, mungkin aku bisa melihat putingnya. Tapi ini sih ketahuan banget. Jangan sampai. Betapa tersiksanya aku siang ini. Tersiksa tapi nikmat! Oh Tuhan, janganlah aku Kau beri siksa yang begini. Aku khawatir tak sanggup menahan diri. Rasa-rasanya tanganku ingin menelusup ke belahan baju mandi ini lalu meremas buah putih itu? Kalau itu terjadi, bisa-bisa aku dipulangkan, dan hilanglah kesempatanku meraih masa depan yang lebih baik. Apa yang kubilang pada ayahku ? Dapat kupastikan ia marah besar, dan artinya, kiamat bagiku.

Untung, atau sialnya, Tante cepat bangkit menuju ke kamar sambil menukas: ?Teruskan ya makannya.? ?Ya Tante,? sahutku masih gemetaran. Aah., aku menemukan sesuatu lagi. Aku mengamati Tante berjalan ke kamarnya dari belakang, gerakan pinggulnya indah sekali. Pinggul yang tak begitu lebar, tapi pantatnya demikian menonjol ke belakang. Tubuh ideal, memang.

Malamnya aku disuruh makan duluan sendiri. Tante menunggu Oom yang telat pulang malam ini. Masih terbayang kejadian siang tadi bagaimana aku menikmati pemandangan dada Tante yang membuat aku tak begitu selera makan. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Tante yang muncul dari kamarnya. Masih mengenakan baju-mandi yang tadi, rambutnya juga masih diikat handuk. Langsung ia duduk disebelahku persis di kursi yang tadi. Belum habis rasa kagetku, tiba-tiba pula ia pindah dan duduk di pangkuanku! Bayangkan pembaca, bagaimana nervous-nya aku. Yang jelas penisku langsung mengeras merasakan tindihan pantat Tante yang padat. Disingkirkannya piringku, memegang tangan kiriku dan dituntunnya menyelinap ke belahan baju-mandinya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kuremas dadanya dengan gemas. Hangat, padat dan lembut.

Tantepun menggoyang pantatnya, terasa enak di kelaminku. Goyangan makin cepat, aku jadi merasa geli di ujung penisku. Rasa geli makin meningkat dan meningkat, dan .. Aaaaah, aku merasakan nikmat yang belum pernah kualami, dan eh, ada sesuatu terasa keluar berbarengan rasa nikmat tadi, seperti pipis dan? aku terbangun. Sialan! Cuma mimpi rupanya. Masa memimpikan Tante, aku jadi malu sendiri. Kejadian siang tadi begitu membekas sampai terbawa mimpi. Eh, celanaku basah. Mana mungkin aku ngompol. Lalu apa dong ? Cepat-cepat aku periksa. Memang aku ngompol! Tapi tunggu dulu, kok airnya lain, lengket-lengket agak kental. Ah, kenapa pula aku ini ? Apa yang terjadi denganku ? Besok coba aku tanya pada Oom. Gila apa! Jangan sama Oom dong. Lalu tanya kepada Tante, tak mungkin juga. Coba ada Mas Joko, kakak kelasku di ST dulu. Mungkin teman sekolahku ada yang tahu, besok aku tanyakan.